JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET – Laporan Perekonomian Indonesia 2025 yang dirilis oleh Bank Indonesia menggambarkan kondisi yang stabil, tangguh, dan berdaya tahan. Inflasi terkendali, sistem keuangan relatif aman, dan pertumbuhan tetap berada di kisaran 4,7–5,5 persen pada 2025.
Namun di balik stabilitas itu, angka-angka yang sama justru menunjukkan sesuatu yang lebih mengkhawatirkan. Ekonomi Indonesia memang stabil, tetapi stabil dalam kecepatan rendah, stabil dalam ketergantungan, dan stabil dalam struktur yang belum berubah secara mendasar.
Angka pertama yang patut diperhatikan adalah pertumbuhan itu sendiri. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2025 hanya berada di rentang 4,7–5,5 persen, meningkat perlahan menjadi 4,9–5,7 persen pada 2026, lalu 5,1–5,9 persen pada 2027, dan dalam skenario dasar baru mencapai 5,6–6,4 persen pada 2031.
Ini bukan angka krisis, tetapi juga bukan angka akselerasi. Negara berkembang yang ingin keluar dari jebakan pendapatan menengah umumnya membutuhkan pertumbuhan stabil di atas 6–7 persen selama satu dekade. Indonesia, dalam proyeksi resminya sendiri, bahkan belum sampai ke sana. Artinya sederhana. Ekonomi berjalan, tetapi tidak cukup cepat untuk mengejar perubahan struktur ekonomi global.
Masalah berikutnya terlihat dari komposisi kredit. Pada Desember 2025, kredit investasi tumbuh sangat tinggi, 21,06 persen secara tahunan. Namun kredit modal kerja hanya tumbuh 4,52 persen, kredit konsumsi 6,58 persen, dan kredit UMKM bahkan mengalami kontraksi minus 0,30 persen. Angka ini menjelaskan paradoks yang sering terjadi di lapangan. Proyek besar berjalan, investasi naik, tetapi aktivitas ekonomi sehari-hari terasa berat.
Ketika kredit investasi melonjak tetapi kredit konsumsi dan UMKM melemah, pertumbuhan menjadi sempit, terkonsentrasi pada sektor besar, dan kehilangan daya dorong dari bawah. Ekonomi terlihat sehat di agregat, tetapi melemah di tingkat rumah tangga dan usaha kecil.
Kerentanan berikutnya muncul dari sisi eksternal. Pada 2025 terjadi net outflow investasi portofolio sebesar 6,8 miliar dolar AS. Cadangan devisa memang masih kuat di posisi 156,5 miliar dolar AS, tetapi fakta bahwa arus modal dapat dengan cepat keluar menunjukkan betapa sensitifnya pasar keuangan domestik terhadap perubahan global.
Ketika suku bunga negara maju tinggi dan ketidakpastian meningkat, dana asing bergerak keluar, nilai tukar tertekan, dan stabilitas kembali bergantung pada intervensi kebijakan. Ini bukan tanda kelemahan jangka pendek, melainkan tanda bahwa struktur pembiayaan ekonomi masih sangat tergantung pada sentimen global.
Narasi besar pemerintah adalah hilirisasi dan industrialisasi. Namun angka di dalam laporan menunjukkan bahwa sektor hilirisasi baru menyumbang sekitar 26,7 persen dari total investasi, sementara 73,3 persen masih berada di sektor non-hilirisasi. Lebih jauh lagi, hilirisasi yang berjalan masih didominasi produk antara, bukan produk akhir bernilai tambah tinggi.











