Impor produk turunan mineral masih tinggi, tenaga kerja industri masih didominasi lulusan SMA ke bawah, dan inovasi nasional masih tertinggal dibanding negara pesaing. Artinya, hilirisasi memang telah meningkatkan ekspor dan investasi, tetapi belum menciptakan kedalaman industri. Indonesia masih menjual bahan yang sudah diproses sedikit lebih jauh, bukan menjual teknologi atau produk akhir.
Di sinilah masalah produktivitas menjadi nyata. Bank Indonesia sendiri menekankan pentingnya penurunan ICOR (incremental capital-output ratio) dan peningkatan produktivitas total faktor produksi. Artinya, investasi yang besar belum menghasilkan pertumbuhan yang sebanding.
Ekonomi membutuhkan modal yang semakin besar untuk menghasilkan tambahan output yang sama. Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat pertumbuhan mahal, boros investasi, dan sulit dipercepat tanpa reformasi struktural yang serius.
Ironisnya, semua ini terjadi di tengah stabilitas makro yang relatif baik. Inflasi terkendali, sistem perbankan kuat, dan kebijakan fiskal dijaga di bawah defisit 3 persen PDB. Stabilitas ini menjadi kekuatan sekaligus jebakan. Karena tidak ada krisis, tidak ada urgensi perubahan besar.
Karena ekonomi masih tumbuh, kelemahan struktural terasa tidak mendesak. Padahal angka-angka tersebut justru menunjukkan bahwa risiko terbesar ekonomi Indonesia bukanlah krisis mendadak, melainkan stagnasi perlahan.
Pertumbuhan lima persen terasa cukup aman secara politik dan makroekonomi, tetapi terlalu lambat untuk menciptakan lompatan kesejahteraan. Kredit investasi yang tinggi tanpa penguatan konsumsi dan UMKM memperlebar kesenjangan struktur ekonomi.
Hilirisasi tanpa inovasi hanya memperpanjang ketergantungan pada komoditas. Dan ketahanan eksternal yang bergantung pada arus modal asing membuat ekonomi selalu waspada terhadap keputusan bank sentral negara lain.
Secara umum, ekonomi Indonesia tidak sedang dalam masalah, tetapi juga belum benar-benar keluar dari masalah lamanya. Pertumbuhan masih digerakkan oleh kebijakan dan momentum, bukan oleh produktivitas dan transformasi yang dalam.
Selama angka pertumbuhan tetap berada di kisaran lima persen, Indonesia terlihat stabil. Namun dalam dunia yang berubah cepat, stabilitas tanpa percepatan sering kali bukan kekuatan, melainkan tanda bahwa ekonomi sedang berjalan di tempat.











