BPJS Kesehatan Terancam Defisit Rp30 Triliun, Menkes Isyaratkan Kenaikan Iuran bagi Kelas Menengah

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi sadikin.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi sadikin. (Dok. CNBC Indonesia)

“Yang memang bayarnya kan Rp42.000 sebulan. Menengah ke atas kayak wartawan Rp42.000 sebulan harusnya bisa deh. Yah, yang laki-laki beli rokok kan lebih dari itu,” tambah Budi.

Meski pemerintah menjamin kelompok miskin aman, wacana ini memicu kritik tajam dari Ketua Umum Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia, Agung Nugroho.

Ia memperingatkan bahwa kenaikan iuran justru akan memukul kelompok menengah bawah dan pekerja sektor informal yang pengeluarannya sangat ketat.

Agung menilai kebijakan ini berisiko menjadi bumerang, di mana angka penunggakan iuran berpotensi melonjak dan menyebabkan banyak peserta menjadi nonaktif.

“Jika iuran naik, banyak keluarga akan melakukan penyesuaian pengeluaran. Risiko yang muncul adalah meningkatnya tunggakan dan kepesertaan nonaktif. Pada akhirnya, mereka bisa kehilangan jaminan kesehatan saat justru paling dibutuhkan,” ujar Agung.

Rekan Indonesia mendesak pemerintah agar tidak terburu-buru mengeksekusi kebijakan ini.

Mereka meminta adanya kajian ekonomi yang lebih dalam untuk memastikan bahwa upaya menambal defisit tidak justru mengorbankan hak kesehatan dasar masyarakat luas.

Baca Juga: Direksi Baru BPJS Kesehatan 2026-2031: Menjawab Tantangan JKN yang Makin Kompleks