Plastik Nabati Jadi Solusi: Pemerintah Siapkan Singkong dan Rumput Laut Guna Lawan Krisis Impor

Menteri UMKM menegaskan skema potongan komisi aplikator sebesar 8 persen berhasil mendongkrak kesejahteraan pendapatan para mitra pengemudi ojol./Foto: TV Parlemen.

FAKTANASIONAL.NET – Eskalasi konflik di Asia Barat yang memicu kelangkaan pasokan nafta—komponen utama plastik—memaksa Pemerintah Indonesia mengambil langkah berani.

Guna menyelamatkan pelaku UMKM dari jeratan harga kemasan yang melambung pasca-Lebaran 2026, substitusi bahan baku lokal berbasis nabati kini menjadi prioritas nasional.

Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk lepas dari ketergantungan impor melalui kekayaan alamnya sendiri.

“Rumput laut, singkong. Ini baru dua itu saja ya baru dua itu yang yang bisa dipakai untuk plastik ini,” ujar Maman di Jakarta, dikutip Jumat (10/4/2026).

Mengganti Nafta dengan Potensi Lokal

Selama ini, industri plastik domestik sangat rapuh terhadap gejolak geopolitik karena ketergantungan pada nafta yang merupakan turunan minyak bumi.

Pemerintah kini mulai serius mengkaji peralihan ke arah bioplastic yang lebih stabil dan berkelanjutan.

“Dari nafta yang kita impor dari luar ya kita ganti jadi produk-produk yang di Indonesia sudah cukup banyak. Paling penting adalah substitusi pemanfaatan atau penggunaan raw material nafta,” tambah Maman.

Secara teknis, kedua bahan ini bukan hanya sekadar alternatif, tetapi memiliki keunggulan kompetitif:

Exit mobile version