Opini  

219,74 Juta Jiwa Selamat Dari Narkoba, Melihat Sisi Kemanusiaan dari Kinerja Kepolisian

R. Haidar Alwi, Pendiri Haidar Alwi Instituf dan Haidar Alwi Care/Ist.

Sementara pada 2026 hingga April, pengungkapan masih terus berjalan melalui operasi-operasi wilayah, termasuk penyitaan 67 kilogram sabu di Merak, pengungkapan jaringan di Bali, serta penindakan di berbagai daerah lain.

“Ketika angka pengungkapan meningkat secara konsisten, itu menandakan negara tidak sedang diam. Sistem deteksi, pemetaan ancaman, dan tindakan lapangan bekerja semakin efektif. Dalam isu narkoba, keterlambatan satu langkah saja bisa berarti ribuan anak muda terseret ke jurang kerusakan”

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa data tahunan bukan sekadar statistik institusional. Di balik angka-angka itu terdapat fakta bahwa polri terus menahan arus peredaran narkoba yang setiap saat berusaha menembus kehidupan masyarakat. Karena itu, pembahasan tidak cukup berhenti pada jumlah kasus, tetapi harus masuk pada nilai penyelamatan yang sesungguhnya.

Nilai Keberhasilan yang Tidak Bisa Ditakar dengan Rupiah.

Kalau dilihat dari data resmi yang bisa diverifikasi, gambaran penyelamatan generasi itu sangat besar. Polri pada 2021 berhasil menyelamatkan 39,24 juta jiwa, pada 2022 sekitar 104,4 juta jiwa, pada 2023 35,7 juta jiwa, dan pada 2024 40,4 juta jiwa. Jika empat angka ini dijumlahkan, hasilnya sekitar 219,74 juta jiwa yang menurut perhitungan resmi Polri terselamatkan dari peredaran gelap narkoba.

Secara nilai ekonomi, angka minimum yang aman dipakai dari laporan resmi berada di kisaran Rp11,66 triliun pada 2021, Rp11,02 triliun pada 2022, Rp12,8 triliun pada 2023, Rp8,6 triliun pada 2024, dan Rp41 triliun pada laporan penindakan setahun terakhir.

Secara akumulatif minimum, nilainya sudah berada di kisaran Rp85 triliun lebih. Namun angka sebesar itu tetap belum mampu menggambarkan nilai sesungguhnya, karena yang dipertaruhkan bukan hanya uang, tetapi kualitas generasi bangsa.

Rakyat perlu membayangkan satu hal sederhana: jika ratusan ton narkoba itu lolos ke pasar gelap, berapa banyak pelajar yang terjerumus, berapa banyak keluarga yang hancur, berapa besar biaya kesehatan yang membengkak, berapa luas kriminalitas yang ikut tumbuh, dan berapa banyak masa depan yang runtuh sebelum sempat berkembang. Di titik ini, nilai keberhasilan Polri jelas melebihi seluruh angka materi yang bisa dicatat dalam laporan tahunan.

“Nilai keberhasilan Polri dalam pemberantasan narkoba tidak bisa diukur dengan rupiah semata, karena yang diselamatkan adalah kualitas manusia. Uang bisa dihitung, tetapi generasi yang tidak hancur akibat narkoba tidak punya harga pasar”

Pandangan itu menempatkan pemberantasan narkoba sebagai investasi sosial jangka panjang. Ketika ancaman dihentikan hari ini, negara sedang mengurangi beban kriminalitas, kerusakan kesehatan publik, dan kehancuran keluarga pada masa depan. Dalam konteks itulah apresiasi terhadap Polri dan kepemimpinan Kapolri menjadi penting untuk ditegaskan.

Apresiasi untuk Polri dan Kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Keberhasilan ini layak diapresiasi setinggi-tingginya kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan seluruh jajaran Polri, mulai dari Bareskrim, Polda, Polres, hingga personel lapangan yang bekerja di garis depan.

Pada 29 Oktober 2025, Presiden Prabowo Subianto hadir langsung di Lapangan Bhayangkara, Mabes Polri, untuk memusnahkan 214,84 ton barang bukti narkoba senilai Rp29,37 triliun bersama Kapolri. Kehadiran Presiden dalam momen tersebut menunjukkan bahwa perang melawan narkoba adalah agenda strategis negara.

Di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, penanganan narkoba terlihat semakin terukur, sistematis, dan berorientasi pada keselamatan publik.

Peningkatan kapasitas pengungkapan dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa institusi Polri terus bergerak menyesuaikan diri dengan pola kejahatan yang semakin kompleks. Ini bukan sekadar keberhasilan administratif, melainkan keberhasilan menjaga kehidupan masyarakat dari ancaman yang merusak dari dalam.

Polri adalah institusi strategis dalam menjaga keamanan nasional dan melindungi masa depan generasi bangsa. Pernyataan ini berangkat dari kenyataan bahwa bangsa yang gagal melindungi anak mudanya dari narkoba sedang membiarkan masa depannya runtuh secara perlahan.

Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan seluruh jajaran Polri. Keberhasilan ini bukan hanya prestasi institusi, tetapi bentuk nyata penyelamatan bangsa, karena setiap pengungkapan narkoba berarti ada generasi yang berhasil dijauhkan dari kehancuran.

Jakarta, 12 April 2026