“Gestur solidaritas yang mulia ini akan menjangkau jutaan konsumen di seluruh provinsi dan kotamadya khusus Isla de la Juventud, di samping lembaga kesehatan dan pendidikan kita. Ikatan persahabatan dan kerja sama yang erat yang membuat kami semakin kuat di saat-saat krusial seperti ini,” lanjut Diaz-Canel.
Senada dengan sang presiden, Duta Besar China untuk Kuba, Hua Xin, menegaskan pentingnya pengiriman logistik ini bagi hubungan diplomatik kedua negara. Ia menyebut komitmen total 60.000 ton beras tersebut sebagai salah satu sokongan terbesar dari negaranya.
“Bantuan pangan terbesar dari negara kami (China) dalam beberapa tahun terakhir,” ungkap Dubes Hua Xin.
Dampak Sanksi Energi dan Embargo Panjang AS
Kuba tercatat telah berada di bawah sanksi embargo perdagangan ketat oleh Amerika Serikat sejak tahun 1962.
Pemerintah Havana secara konsisten menyuarakan bahwa kebijakan isolasi ekonomi dari Washington inilah yang menjadi akar utama kelangkaan pangan dan obat-obatan di dalam negeri.
Kondisi geopolitik dan domestik Kuba kian memburuk pasca-tindakan agresif pemerintahan Donald Trump terhadap sekutu utama Kuba, Venezuela, termasuk penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro serta intervensi langsung pada kebijakan energi di kawasan tersebut.
AS mengancam akan menjatuhkan sanksi berat bagi pihak atau negara mana pun yang nekat menjual minyak ke Kuba. Padahal, selama ini Kuba sangat bergantung pada pasokan minyak murah dari Venezuela untuk menggerakkan roda ekonomi mereka.
Akibat blokade pasokan energi ini, kelangkaan bahan bakar tak terhindarkan dan memperparah krisis pemadaman listrik massal yang telah lama melumpuhkan aktivitas harian warga Kuba.











