FAKTANASIONAL.NET – Bayangkan sebuah film geopolitik modern. Bukan tentang kapal induk yang berlayar di Laut Cina Selatan.
Bukan pula tentang perang dagang yang setiap pagi muncul di layar ponsel seperti notifikasi yang tak pernah selesai.
Film ini justru dimulai dari tempat yang lebih sunyi: dari akar-akar mangrove yang mencengkeram lumpur pesisir Kalimantan Barat.
Dari bentang hijau yang membentang panjang dari kawasan Singbebas—Singkawang, Bengkayang, dan Sambas—menyusuri Mempawah, Kubu Raya, Kayong Utara hingga Ketapang.
Di peta Indonesia, wilayah ini mungkin hanya terlihat sebagai garis hijau tipis di tepian laut. Namun dalam peta ketahanan iklim dunia, kawasan ini adalah salah satu benteng terdepan Nusantara.
Ironisnya, semakin penting perannya bagi dunia, semakin sedikit orang yang membicarakannya.
Mangrove tidak pandai berpidato. Ia tidak memiliki akun media sosial. Ia tidak pernah membuat konferensi pers.
Tetapi setiap hari ia bekerja lebih keras dibanding banyak institusi yang memiliki gedung megah dan pendingin ruangan. Ketika ombak datang, ia menahannya. Ketika abrasi menggerus pantai, ia menjadi tameng.
Ketika karbon atmosfer meningkat, ia menyimpannya. Ketika ikan, udang, dan kepiting membutuhkan tempat tumbuh, ia menyediakan rumah. Pendek kata, mangrove melakukan pekerjaan strategis dunia tanpa pernah meminta tepuk tangan.
Sementara itu, dunia sedang mengalami kegelisahan yang aneh. Negara-negara besar berlomba menguasai kecerdasan buatan, mineral kritis, energi masa depan, dan rantai pasok global.
