“Dengan ini, (Bea Masuk 0 persen) diharapkan bisa meningkatkan nilai manfaat bagi sektor ekonomi sebesar Rp2,25 triliun berupa pengurangan cost bagi industri terkait dan efek multiplier efek atau efek pengganda yang bisa didorong,” kata dia.
Jaga Stabilitas Harga Pangan lewat Bahan Baku Plastik
Tidak hanya menyasar sektor energi petrokimia, stimulus kali ini juga membebaskan Bea Masuk untuk impor bahan baku plastik.
Langkah ini dinilai krusial mengingat plastik merupakan komponen utama dalam industri kemasan (packaging) makanan dan minuman di Indonesia.
Pemerintah berharap, pembebasan tarif ini mampu menekan biaya produksi hilir sehingga harga produk di tingkat konsumen tetap stabil dan inflasi dapat terjaga.
“Pemerintah mengharapkan dengan adanya bahan baku plastik yang 0 persen ini juga akan membantu terkait dengan inflasi, terutama hampir seluruh packaging makanan dibungkus dengan plastik sambil kita menunggu perkembangan daripada situasi,” jelas Airlangga.
Angin Segar untuk Industri Penerbangan
Melengkapi paket stimulus semester II 2026, pemerintah turut menghapus Bea Masuk impor suku cadang pesawat.
Kebijakan ini ditujukan untuk mendongkrak daya saing maskapai penerbangan nasional serta memperkuat ekosistem industri perawatan pesawat di dalam negeri.
“Pemerintah juga terus mendorong untuk impor suku cadang pesawat ini diturunkan menjadi 0 persen. Ini juga untuk mendukung industri penerbangan dan industri MRO (maintenance, repair, and operations) agar daya saing industri MRO juga lebih bisa ditingkatkan,” pungkas Airlangga.
Baca Juga: Dirjen Migas Pastikan Pasokan BBM dan LPG Aman Jelang Lebaran 2026











