Kloning Wajah hingga Suara: OJK dan BSSN Buka Suara Soal Ganasnya Modus Penipuan Berbasis AI

eknologi Deepfake dan AI kini mulai dimanfaatkan oleh pelaku kriminal siber untuk mengkloning wajah dan suara korban demi melancarkan aksi penipuan digital./Dok. Ist

FAKTANASIONAL.NET — Dunia kriminal digital kini memasuki babak baru yang jauh lebih mengkhawatirkan. Era penipuan lewat SMS amatir penuh salah ketik (typo) mulai bergeser.

Saat ini, para pelaku kejahatan siber telah melakukan upgrade besar-besaran dengan memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Deepfake untuk mengelabui korban.

Menanggapi fenomena ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperingatkan bahwa penguatan literasi digital masyarakat sudah bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi.

Menurut Daniel Apriandi, Deputi Direktur Departemen Perlindungan Konsumen OJK sekaligus Sekretariat Satgas PASTI, pelaku kejahatan siber tidak lagi sekadar meretas sistem keamanan, melainkan meretas psikologi dan identitas manusia.

Teknologi AI kini digunakan untuk memanipulasi identitas digital secara instan dan masif, membuat trik klasik seperti phishing dan social engineering menjadi jauh lebih mematikan.

“Scam dengan modus phishing dan social engineering terus meningkat, diperparah dengan penggunaan AI dan deepfake yang kini mampu meniru wajah, suara, dan bahasa tubuh korban secara sempurna,” ungkap Daniel di Jakarta, Senin (6/7/2026).

Skema ini sangat berbahaya. Korban bisa saja menerima panggilan video (video call) dari kerabat dekat atau atasan yang meminta bantuan dana darurat. Wajah, suara, hingga gaya bicaranya tampak sangat persis. Padahal, di balik layar, program AI tengah bekerja menduplikasi identitas korban asli.

Baca Juga: OJK Tetapkan Tujuh Calon Direksi BEI 2026–2030, Jeffrey Hendrik Jadi Calon Direktur Utama

Tiga Benteng Pertahanan Hadapi Taktik AI

Daniel menyebutkan bahwa rendahnya literasi digital masyarakat tetap menjadi pintu masuk utama yang dieksploitasi oleh para pelaku.

Secanggih apa pun teknologi yang digunakan penipu, benteng pertahanan terbaik tetap ada pada kesadaran penggunanya sendiri.

Guna menekan angka korban, OJK bersama Satgas PASTI terus menggenjot edukasi konsumen dengan menekankan tiga poin penting:

Exit mobile version