Selesai

Selesai

Ada malam-malam ketika nama itu tiba-tiba muncul tanpa diundang. Bukan karena kita ingin kembali, melainkan karena hati masih mengingat seseorang yang pernah menjadi alasan pulang.

Kita membuka percakapan lama, membaca ulang pesan-pesan sederhana, lalu tersenyum kecil sambil berkata dalam hati, “Ternyata kita pernah sebahagia itu.”

Dan setelah itu, layar kembali dikunci.

Karena kita tahu, beberapa pintu memang diciptakan untuk dikenang, bukan untuk dibuka kembali.

Barangkali dewasa memang seperti ini. Tidak semua kehilangan harus diperjuangkan. Tidak semua yang dicintai harus dimiliki.

Ada cinta yang tugasnya hanya datang, mengubah kita menjadi pribadi yang lebih baik, lalu pergi tanpa pernah kembali.

Maka jika suatu hari kita bertemu lagi, semoga bukan sebagai dua orang yang saling menyalahkan. Semoga kita menjadi dua manusia yang mampu saling tersenyum, lalu diam-diam bersyukur karena pernah dipertemukan.

Sebab pada akhirnya, cinta sejati tidak selalu diukur dari seberapa lama seseorang bertahan. Kadang ia justru terlihat dari seberapa ikhlas seseorang melepaskan, meski separuh jiwanya ikut pergi bersamanya.

Dan mungkin, itulah bentuk cinta yang paling sunyi.

Mencintai seseorang dengan sepenuh hati, lalu merelakannya berjalan menuju kebahagiaan… meski kebahagiaan itu tidak lagi bersama kita.

“Tidak semua pelukan adalah rumah. Ada yang hanya menjadi persinggahan, lalu pergi meninggalkan rindu.”

– Faqih

[dit]