RASANYA ada yang aneh. Pemerintah sedang sibuk menanam program di mana-mana. Makan Bergizi Gratis (MBG) bergemuruh dari Sabang sampai Merauke. Kopdes Merah Putih lahir bak jamur setelah hujan. Sekolah Rakyat ikut dibentangkan. Universitas Republik Indonesia menyusul masuk panggung. Hampir semua seolah “dihijaukan” dan “dicokelatkan.” Pokoknya ada.
Eh, tiba-tiba muncul Survei SMRC. Hasilnya bikin banyak orang hampir menyemburkan kopi. Terlebih para pendukung Prabowo sendiri.
SMRC merilis hasil survei, 26 Juli 2026. Tercatat tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo Subianto tinggal 51,1 persen. Survei dilakukan pada 5–19 Juli 2026 terhadap 749 responden yang dipilih secara acak, dengan margin of error ±3,7 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. Padahal pada November 2025 angkanya masih 81,2 persen. Artinya, dalam sembilan bulan, kepuasan publik turun sekitar 30,1 poin. Turunnya bukan lagi pakai lift. Ini sudah seperti karung goni jatuh dari lantai dua puluh. Gedebuk..buk..buk, ada ehonya, ups.
Rinciannya, hanya 4,8 persen yang mengaku sangat puas. Sedangkan 46,3 persen cukup puas. Di sisi lain, masyarakat yang tidak puas melonjak menjadi 46,9 persen, terdiri atas 35 persen kurang puas dan 11,9 persen sama sekali tidak puas. Sisanya 2,1 persen memilih diam. Mungkin sedang menghitung cicilan, mungkin juga takut salah jawab, atau karyawan dapur.
Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani menyebut, penyebabnya berasal dari persepsi publik terhadap ekonomi, politik, dan hukum. Hanya 15,7 persen responden yang menilai ekonomi baik. Sedangkan 49,4 persen mengatakan buruk atau sangat buruk. Politik lebih nelangsa lagi. Yang menilai baik tinggal 13,5 persen. Sementara 42,8 persen menganggap buruk. Penegakan hukum pun ikut terseret. Sebanyak 26,4 persen menilai baik. Sedangkan 37,6 persen menyebut buruk atau sangat buruk. Menurut Deni, perubahan ini signifikan secara statistik.
Kalau melihat daftar program pemerintah yang terus bermunculan, sebagian orang mungkin spontan bertanya, “Jangan-jangan respondennya lagi libur semua?” Tentu itu hanya gurauan warung kopi. Sebab survei tetap memiliki metodologi yang dijelaskan secara terbuka.











