Perkuat Perdamaian Dunia, Indonesia dan Takhta Suci Dorong Diplomasi Religius

Diplomasi Religius dan Tindak Lanjut Deklarasi Istiqlal untuk Perdamaian Dunia./Dok. Kemlu RI

FAKTANASIONAL.NET — Diplomasi religius (religious diplomacy) dinilai menjadi instrumen strategis yang kian relevan dalam mewujudkan perdamaian dunia yang berkelanjutan.

Hal tersebut ditegaskan oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Takhta Suci, Michael Trias Kuncahyono, dalam konferensi internasional di Yogyakarta.

Dalam pemaparannya pada The 10th International Conference on Sustainable Innovation (ICoSI) yang digelar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada 5–7 Agustus 2026, Dubes Trias menjelaskan bahwa agama memiliki rekam jejak panjang dalam panggung diplomasi global.

Nilai-nilai keagamaan terbukti mampu meredakan konflik sekaligus membangun kerja sama antarnegara, sebagaimana tercatat dalam sejarah Perjanjian Westphalia hingga Perjanjian Camp David.

Baca Juga: Hadapi Gejolak Global, Menlu Sugiono Dorong ASEAN Perkuat Ketahanan Pangan dan Rantai Pasok

Menurut Dubes Trias, dialog antaragama merupakan instrumen diplomasi modern yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) PBB ke-16, yakni mewujudkan perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh.

Ia mencontohkan peran historis sejumlah tokoh dunia, seperti Paus Yohanes Paulus II dalam proses perdamaian Amerika Tengah dan Timur Tengah, Dalai Lama terkait isu HAM di Tibet, serta Paus Fransiskus dalam rekonsiliasi hubungan Amerika Serikat dan Kuba.

Guna memperkuat implementasi diplomasi tersebut, Dubes Trias turut melakukan pertemuan dengan Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, di Jakarta.

Pertemuan ini membahas langkah konkret tindak lanjut Deklarasi Istiqlal yang pernah ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiqlal pada September 2024.

Menag Nasaruddin Umar menyambut positif sinergi antara Indonesia dan Takhta Suci dalam menyuarakan perdamaian berbasis humanisme.

Sebagai negara kepulauan yang majemuk, Indonesia dinilai memiliki modal sosial alami dalam merawat keberagaman berlandaskan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Sebagai bentuk komitmen nyata memperingati dua tahun Deklarasi Istiqlal pada tahun 2026, KBRI Takhta Suci bakal menginisiasi kegiatan kolaboratif yang melibatkan Kementerian Agama RI, Pemerintah Vatikan, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, serta organisasi keagamaan lainnya.

Menteri Agama mengapresiasi rencana tersebut dan berharap kolaborasi ini memberikan kontribusi nyata bagi stabilitas serta keamanan global.

Baca Juga: Genjot Daya Saing Daerah, Kemlu RI Asah Kemampuan Diplomasi Ekonomi di Sumatera Barat