Tetapi kali ini, aku tidak ingin membangunnya dari janji-janji yang terlalu tinggi.
Aku ingin membangunnya dari tindakan.
Sedikit demi sedikit.
Hari demi hari.
Sampai suatu saat kita tidak perlu lagi bertanya apakah hubungan ini akan bertahan.
Kita hanya menjalaninya.
Mungkin nanti akan ada pertengkaran lagi. Mungkin ada hari ketika kita saling kecewa. Mungkin ada saat ketika salah satu dari kita kembali merasa lelah.
Tetapi semoga kali ini kita tahu apa yang harus dilakukan.
Bukan pergi.
Bukan menghilang.
Bukan saling menghukum dengan diam.
Melainkan kembali duduk di tempat yang sama dan berkata, “Mari kita selesaikan.”
Karena menurutku, hubungan yang kuat bukan hubungan yang tidak pernah memiliki masalah.
Hubungan yang kuat adalah hubungan yang membuat dua orang memilih menyelesaikan masalah tanpa menjadikan perpisahan sebagai jalan pertama.
Aku ingin rumah itu memiliki banyak jendela.
Agar tidak ada lagi ruang untuk menyimpan terlalu banyak rahasia.
Aku ingin pintunya selalu bisa diketuk.
Agar ketika salah satu dari kita merasa jauh, ia tahu masih ada tempat untuk pulang.
Dan aku ingin rumah itu memiliki halaman yang luas.
Tempat kita bisa duduk suatu hari nanti, ketika usia telah berjalan jauh, lalu mengenang semuanya tanpa rasa marah.
Kita mungkin akan tertawa mengingat betapa keras kepala kita dahulu.
Mungkin juga kita akan terdiam ketika mengingat berapa banyak air mata yang pernah jatuh.
Tetapi setidaknya kita tahu, semua itu tidak berakhir sia-sia.
Karena dari reruntuhan itu kita belajar membangun.
Dari luka kita belajar menjaga.
Dari kesalahan kita belajar mencintai dengan lebih hati-hati.
Dan dari kehilangan kita belajar menghargai sebuah kehadiran.
Aku tidak ingin kembali kepadamu hanya untuk mengatakan bahwa aku masih mencintaimu.
Aku ingin kembali dan menunjukkan bahwa kali ini aku tahu bagaimana caranya mencintaimu.
Mungkin aku tidak akan selalu sempurna.
Mungkin masih akan ada kesalahan.
Tetapi aku ingin menjadi seseorang yang ketika salah, mau memperbaiki.
Ketika kau terluka, mau mendengarkan.
Ketika kita berbeda, mau memahami.
Dan ketika kehidupan membuat kita lelah, aku ingin kita tidak saling menjadikan satu sama lain sebagai musuh.
Aku ingin kita menjadi tempat untuk beristirahat.
Sebab pada akhirnya, aku tidak mencari seseorang untuk membuat hidupku sempurna.
Aku hanya ingin seseorang yang bersedia berjalan bersamaku ketika hidup sedang tidak sempurna.
Dan mungkin itu alasan sebenarnya mengapa aku ingin kembali.
Bukan karena aku tidak bisa hidup tanpamu.
Aku bisa.
Kau juga bisa.
Tetapi ada perbedaan antara mampu hidup tanpa seseorang dan memilih untuk menjalani hidup bersama seseorang.
Aku ingin memilihmu, jika kau juga masih ingin memilihku.
Bukan karena kita takut kehilangan.
Bukan karena kesepian.
Bukan karena masa lalu terlalu indah untuk dilupakan.
Tetapi karena setelah semuanya terjadi, kita masih percaya bahwa ada sesuatu yang layak diperjuangkan.
Jika memang masih ada kesempatan, mari kita mulai dari awal.
Bukan dari nol, karena kita sudah membawa banyak pelajaran.
Kita mulai dari semua yang pernah kita lalui.
Dari luka.
Dari air mata.
Dari kesalahan.
Dari kehilangan.
Lalu kita bangun kembali sesuatu yang lebih kuat daripada sebelumnya.
Tidak perlu istana yang megah.
Cukup sebuah rumah yang tenang.
Rumah bagi dua hati yang pernah patah, tetapi tidak sepenuhnya kehilangan kepercayaan kepada cinta.
Dan jika suatu hari nanti kita benar-benar sampai di sana, aku ingin kita melihat ke belakang tanpa penyesalan.
Lalu kita akan tahu bahwa kita tidak kembali untuk menghidupkan masa lalu.
Kita kembali karena akhirnya kita mengerti bagaimana cara membangun masa depan.
Dan mungkin, pada akhirnya, itulah arti sebuah kepulangan.
Bukan menemukan kembali apa yang pernah hilang.
Tetapi menemukan dua manusia yang pernah kehilangan satu sama lain, lalu memilih untuk saling menemukan kembali dengan versi diri yang lebih dewasa.
Aku ingin kembali kepadamu.
Bukan untuk mengulang cerita lama.
Aku ingin kita menulis cerita yang baru.
Dengan tangan yang pernah terluka.
Dengan hati yang pernah patah.
Dengan air mata yang pernah jatuh.
Tetapi juga dengan keberanian untuk percaya sekali lagi:
bahwa cinta, jika dijaga oleh dua hati yang sama-sama mau belajar, masih pantas diperjuangkan.[MFQ]







