Alat bunuh palu besi masih ada di motor Bambang, disita polisi. Beberapa barang bukti, termasuk pakaian korban diamankan polisi.
Kepada polisi, Bambang menceritakan motif pembunuhan itu. Hasil pemeriksaan polisi, Bambang pernah membunuh dua orang di Pati, Jateng, pada 2004, dan ia sudah menjalani hukuman penjara. Ia dijerat Pasal 458 KUHP, pembunuhan biasa. Ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.
Soal pria membunuh pasangan intim wanitanya, psikolog Amerika Serikat David Adams dalam bukunya, Why Do They Kill? Men Who Murder Their Intimate Partners (Vanderbilt University Press, 2007) diurai lengkap.
Buku ini meneliti pria yang membunuh pasangan intimnya, berdasarkan wawancara dengan 31 pria yang membunuh pasangan perempuan mereka.
Gagasan David Adams, bahwa pembunuhan pria terhadap pasangan intim wanitanya, tidak tepat jika begitu saja disebut “crime of passion” atau kejahatan yang semata-mata terjadi karena ledakan emosi sesaat.
Melalui kisah hidup 31 pria respondennya, Adams menunjukkan bahwa pembunuhan sering kali merupakan puncak dari pola perilaku, cara berpikir, dan dinamika hubungan yang telah berkembang sebelumnya. Bukan ledakan emosi sesaat.
Adams mengajak kita melihat: Mengapa pertengkaran yang bagi sebagian besar pasangan hanya menghasilkan percekcokan, pada orang tertentu berubah menjadi pembunuhan?
Jawabannya tidak terletak pada amarah saja. Ada kombinasi antara karakter pelaku, sejarah kehidupannya, pola hubungan dengan perempuan, pengalaman kekerasan sebelumnya, serta cara pelaku memandang pasangan intimnya.
Ada sejumlah pola penting. Salah satunya possession and punishment, yakni pelaku merasa memiliki pasangannya. Kemudian berkembang menjadi keinginan untuk mengontrol wanitanya, kemudian menghukum ketika dianggap membangkang atau menentang kehendaknya.
Dalam hubungan semacam ini, penolakan perempuan tidak selalu dipersepsikan oleh pelaku sebagai perbedaan pendapat biasa, tetapi dapat dipandang sebagai bentuk pembangkangan yang harus “dibayar”.
Karena itu, kecemburuan hanyalah salah satu kemungkinan pemicu, bukan penjelasan lengkap mengenai pembunuhan.
Seorang pria dapat merasa cemburu, marah, tersinggung atau terancam, tanpa membunuh.
Didera Cemburu Buta, Seorang Pria di Bekasi Tikam Selingkuhan Istri Sirinya hingga Tewas
Yang membedakan pelaku pembunuhan adalah bagaimana emosi tersebut berinteraksi dengan pola pikir, sejarah kekerasan, rasa berhak menguasai pasangan, kemampuan mengendalikan agresi, dan dinamika hubungan.
Adams menyatakan, bahwa pembunuhan pasangan sering didahului oleh eskalasi kekerasan. Hubungan dapat bergerak dari konflik, kekerasan pertama, pelaku menyalahkan korban, perlawanan korban, peningkatan kekerasan, sampai pada tindakan ekstrem ketika korban mencoba menolak atau mengakhiri pola tersebut.
Riwayat tindak kekerasan pelaku sebelumnya dapat menjadi bagian dari pola kehidupan yang membantu menjelaskan, mengapa seseorang memiliki ambang tertentu dalam menghadapi konflik. Adams secara khusus membahas upbringing, courtship, child abuse, pola kekerasan, serta riwayat hubungan para pelaku.
Adams menekankan perubahan sudut pandang pelaku. Jangan berhenti pada pertanyaan: “apa yang membuat pria itu marah pada hari pembunuhan?” tetapi tanyakan “mengapa orang ini, dengan sejarah dan pola hubungan seperti itu, merespons konflik dengan kekerasan mematikan?”
Pada kasus pembunuhan Sri, pelakunya pernah dipenjara karena pembunuhan. Jika hal itu dikaitkan dengan teori Adams, maka sejarah masa lalu pelaku berperan dalam pembunuhan. Bukan cuma akibat cemburu. (*)











