Apalagi mengatakan mereka di-orkestrasi kepentingan politik tertentu, sebutlah Demokrat misalnya, sebagai asal parpol Roy Suryo dan Denny Indrayana dulu. Tapi, bukankah Demokrat sendiri adalah salah satu pemenang Pilpres dan Ketumnya saat ini menjadi salah seorang menteri di kabinet Prabowo-Gibran? Intinya, kalau tidak ada celah, mustahil akan bisa dipersoalkan dan berlarut-larut entah sampai kapan akan berakhir?
Menurut saya, ini pelajaran bagi Presiden Prabowo saat ini. Tuntunlah kekuasaan itu dengan pengetahuan, bukan dengan kekuasaan semata.
Sambutan ceplas-ceplos dari pimpinan Pondok Pesantren Modern Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, di hadapan Presiden Prabowo, bahwa ia tak pernah diperlakukan khusus sebagai pimpinan di Gontor, adalah teladan yang baik dan layak untuk dicontoh.
Bukan tak boleh menggunakan kekuasaan—aneh juga, kalau orang yang berkuasa tak menggunakan kekuasaannya—tapi ke depankanlah pengetahuan agar di kemudian hari tidak merepotkan.
Dan saya melihat, Presiden Prabowo sudah berjalan ke arah itu, terlepas dari kekurangan dan kelebihannya. Minimal, Presiden Prabowo tidak cawe-cawe pada persoalan hukum yang sedang berjalan. (ERIZAL)
Sumber: FB @Erizal
