Sepuluh Tahun Dihantui Jerat Pemburu, Kisah Pilu Gajah Erin Bertahan Hidup dengan Belalai Buntung di Way Kambas

Erin, gajah yang bertahan hidup dengan menggunakan belalai buntung di Way Kambas. (FAKTANASIONAL/HO).
Erin, gajah yang bertahan hidup dengan menggunakan belalai buntung di Way Kambas. (FAKTANASIONAL/HO).

Pada masa-masa awal yang menyayat hati, Sukowiyono harus telaten menyuapkan makanan langsung ke rongga mulut Erin. Pria yang telah mengabdi sebagai mahout sejak 1995 itu dengan sabar mengajarinya cara menyesap cairan dan menjangkau pucuk dedaunan dengan sisa belalai yang buntung. Bahkan demi meluluhkan trauma masa lalu Erin terhadap manusia, ia kerap membawakan seikat rumput segar sembari berbisik menenangkan.

“Memang sudah ada makanan, cuma kita kasih tambahan dari kita. Biar pendekatan-pendekatan. Ya memang sudah profesi kita dan sudah tupoksi kita di sini sesuai dengan SK. Kita melatih gajah,” ungkapnya tulus.

Kini, sepuluh tahun berselang, Erin telah menjelma menjadi gajah remaja berusia 13 tahun yang sehat secara fisik. Namun luka psikis di batinnya belum seutuhnya sembuh. Erin tumbuh dengan kepribadian penyendiri, kerap menyingkir dan minder saat kawanan gajah besar mendekat.

“Namanya cacat, makanya dia agak minder lah yang jelas itu. Karena lebih besar yang mendekati. Kalau sama yang kecil juga enggak apa-apa,” ujar Sukowiyono lirih.

Masa depan Erin di TNWK memang masih menunggu arah kebijakan program konservasi selanjutnya. Namun satu hal yang pasti, Sukowiyono berikrar tidak akan pernah melepaskan genggaman tangannya dari satwa malang tersebut.

“Kita kan nunggu program ini nanti bagaimana. Kita belum tahu. Alhamdulillah sampai sekarang semangat. Tiap hari semangat,” tegas pria paruh baya itu dengan sorot mata berkaca-kaca.

Di belantara Way Kambas—yang kini menaungi sekitar 63 ekor gajah jinak dan 200 gajah liar—belalai Erin mungkin tidak akan pernah tumbuh kembali. Jerat kawat manusia telah merampas kesempurnaannya selamanya.

Namun di balik belalai yang terpotong itu, Erin telah membuktikan ketangguhannya bertahan hidup, bersanding dengan ketulusan seorang manusia yang menolak membiarkannya mati dalam sunyi.