Jiwa-Jiwa yang Hampir Runtuh

Jiwa-Jiwa yang Hampir Runtuh/ilustrasi

BARANGKALI manusia tidak benar-benar runtuh pada hari ketika ia menangis.

Ia runtuh jauh sebelumnya.

Ketika ia mulai kehilangan alasan untuk menjelaskan kesedihannya. Ketika percakapan yang dahulu terasa penting berubah menjadi sekadar kewajiban.

Ketika pagi tidak lagi membawa harapan, tetapi hanya mengingatkan bahwa satu hari lagi harus dilewati.

Jiwa manusia sering kali tidak pecah dengan suara keras.

Ia retak perlahan.

Sedikit demi sedikit.

Seperti dinding tua yang masih berdiri meskipun bagian dalamnya telah lama kehilangan kekuatan.

Kita sering keliru membaca seseorang dari wajahnya. Mengira senyum sebagai tanda kebahagiaan.

Menganggap ketenangan sebagai pertanda bahwa semuanya baik-baik saja.

Padahal, manusia mempunyai kemampuan yang sangat mengagumkan sekaligus menyedihkan: menyembunyikan perang paling dahsyat di balik percakapan paling biasa.

Seseorang masih bisa tertawa sambil membawa pemakaman kecil di dalam dirinya.

Masih bisa bekerja ketika pikirannya berantakan.

Masih mampu menolong orang lain ketika dirinya sendiri bahkan tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan diri.

Begitulah jiwa-jiwa yang hampir runtuh bertahan.

Bukan karena mereka kuat sepenuhnya, melainkan karena hidup tidak memberi mereka cukup waktu untuk menjadi lemah.

Pernahkah kita memperhatikan seseorang yang tiba-tiba menjadi sangat diam?

Bukan karena tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan.

Melainkan karena terlalu banyak hal yang telah dikatakan kepada orang yang salah.

Pada titik tertentu, manusia berhenti menjelaskan dirinya sendiri.

Bukan sebab ia tidak peduli, tetapi karena ia mulai memahami bahwa tidak semua orang datang untuk mengerti.

Sebagian hanya datang untuk menilai.

Sebagian lain mendengarkan bukan untuk memahami, melainkan untuk mencari kelemahan yang kelak bisa digunakan kembali.

Maka diam menjadi semacam rumah.

Tempat paling sunyi untuk menyimpan luka.

Di dalam diam, seseorang belajar mengenali dirinya sendiri. Ia mulai menghitung kembali kehilangan. Mengingat wajah-wajah yang pernah dipercaya.

Mengulang percakapan lama. Mengingat janji yang ternyata hanya kalimat indah tanpa niat untuk ditepati.

Kemudian ia bertanya kepada dirinya sendiri:

Mengapa aku masih berharap?

Pertanyaan itu sering kali lebih menyakitkan daripada kehilangan itu sendiri.

Sebab harapan mempunyai cara yang licik untuk membuat manusia bertahan lebih lama di tempat yang seharusnya sudah ditinggalkan.

Kita bertahan pada seseorang karena kenangan.

Bertahan pada pekerjaan karena kebutuhan.

Bertahan pada keadaan karena ketakutan.

Bertahan pada kehidupan karena tidak tahu harus pergi ke mana.

Padahal bertahan tidak selalu berarti kuat.

Kadang-kadang bertahan hanyalah bentuk lain dari ketidakmampuan untuk melepaskan.

Dan di situlah tragedi manusia bermula: ketika seseorang terlalu lama tinggal di tempat yang perlahan membunuh dirinya, hanya karena ia takut menghadapi kesunyian setelah pergi.

Jiwa pun mulai lelah.

Bukan lelah karena bekerja.

Bukan pula karena perjalanan yang panjang.

Melainkan lelah karena terus-menerus menjadi seseorang yang sebenarnya bukan dirinya sendiri.

Usia mengajarkan sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh buku.

Bahwa tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban.

Tidak semua kehilangan harus diganti.

Tidak semua orang yang pergi harus dipanggil kembali.

Dan tidak setiap luka harus dipertontonkan agar dianggap nyata.

Semakin dewasa, manusia justru semakin sedikit berbicara tentang apa yang paling menyakitkan.

Ia mulai memahami bahwa tidak semua telinga layak mendengar isi kepalanya.

Tidak semua hati mampu menerima isi dadanya.

Akhirnya, ia belajar menyimpan sebagian dirinya sendiri.

Namun di balik ketenangan itu, sering kali terdapat pertempuran panjang.

Orang-orang menyebutnya dewasa.

Padahal mungkin ia hanya sudah terlalu sering kecewa.

Orang-orang menganggapnya dingin.

Padahal mungkin ia pernah memberikan seluruh kehangatannya kepada seseorang yang mengembalikannya dalam bentuk luka.

Orang-orang melihatnya tidak lagi peduli.

Padahal ia hanya sedang belajar bahwa kepedulian tanpa batas dapat menjadi cara paling halus untuk menghancurkan diri sendiri.

Ada masa ketika hati tidak lagi meminta untuk dicintai.

Ia hanya ingin diperlakukan dengan jujur.

Exit mobile version