Eling lan Waspodo, Hasto Kristiyanto Ungkap Pelajaran Hidup dari Kisah Pewayangan

BLITAR, FAKTANASIONAL.NET – Ribuan warga dan seniman budaya memadati Pendopo Kabupaten Blitar pada malam pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1446 H, yang juga dikenal sebagai Malam Satu Suro.

Dalam suasana kental religiositas dan tradisi Jawa, digelar pertunjukan wayang kulit dengan lakon Lahirnya Gatotkaca yang dibawakan dalang Ki Minto Darsono.

Acara yang dirangkai dengan pembacaan Serat Ambya dan Macapat ini turut dihadiri Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto.

Dalam sambutannya sebelum wayang dimulai, Hasto mengajak seluruh hadirin merenungi filosofi kepemimpinan ksatria dari cerita Gatotkaca – tokoh wayang kesukaan Bung Karno.

“Bangsa lain merayakan tahun baru dengan pesta pora. Tapi bagi kita, Malam Satu Suro diisi dengan ‘laku’. ‘Ilmu kelakone kanthi laku.’ Diisi dengan perenungan tentang Sangkan Paraning Dumadi (dari mana datang dan ke mana kembali),” ujar Hasto, Senin (15/6/2026) malam.

Hasto memaparkan tiga pesan moral yang bisa dipetik dari kisah Gatotkaca.

Pertama, tentang keberanian seseorang untuk menegakkan kebenaran.

“Gatotkaca tidak pernah takut. Akhir-akhir ini kita sering takut membela kebenaran, takut memperjuangkan keadilan ketika ketidakadilan merajalela. Belajarlah dari Gatotkaca – jadilah ksatria yang membela rakyat, bangsa, dan negara,” kata Hasto.

Kedua, tentang keluarga, kekuasaan, dan ambisi.

Ia merujuk pada konflik Arjuna dan Adipati Karna yang satu ibu namun terpecah oleh kekuasaan. Hasto mengingatkan bahwa tidak ada manusia sepenuhnya baik atau jahat.

“Kedua elemen baik dan buruk selalu ada. Tugas kita menjaga keseimbangan, agar sisi baik terus bergelora melalui laku tirakat,” imbuh Hasto.

Ketiga, selalu bersikap hidup sederhana dan selalu ingat serta penuh kewaspadaan (Eling lan Waspodo).

Sebab meskipun digembleng di Kawah Candradimuka hingga memiliki otot kawat dan tulang besi, Gatotkaca tetaplah ksatria yang rendah hati.