Opini  

Reaksi Riuh Usai Kiai Gontor Banyak Orang Cari Muka dan Ijazah di Depan Prabowo

SOBAT, ada momen langka yang jarang terjadi di negeri ini. Momen ketika seorang kiai tua dengan jenggot putihnya, dengan sorban yang sudah menempel puluhan tahun di kepalanya, dengan mata yang sudah melihat ribuan wajah datang dan pergi berdiri di podium, menghadap Presiden Republik Indonesia, dan melontarkan kalimat yang membuat seluruh ruangan hening.

Bukan hening karena takut. Tapi hening karena setiap orang di ruangan itu tahu: yang sedang diucapkan adalah kebenaran yang selama ini disembunyikan.

Pimpinan Pondok Pesantren Gontor, Hasan Abdullah Sahal, berkelakar menyebut banyak orang yang mencari muka. Pernyataan itu disampaikannya saat berpidato di depan Presiden Prabowo Subianto dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jatim pada Sabtu (19/9/2026).

“Andai kata Pak Prabowo hari ini enggak datang, nah ini muka saya taruh di mana? Akhirnya saya harus cari muka. Sekarang banyak orang yang cari muka,” ujarnya.

Hasan kemudian merinci kelakarnya dengan deretan contoh yang menusuk. “Orang enggak punya ijazah cari ijazah. Orang enggak punya nama cari nama. Orang enggak punya uang cari uang. Orang enggak punya jabatan cari jabatan. Orang enggak punya muka cari muka,” katanya.

Sobat, “orang enggak punya muka cari muka” itu bukan sekadar kelakar. Itu adalah sindiran tajam kepada mereka yang selama ini “menjilat” demi jabatan, proyek, atau popularitas. Dan yang paling menggetarkan: sindiran itu disampaikan langsung di depan Presiden Prabowo Subianto. Bukan di warung kopi. Bukan di media sosial. Tapi di panggung resmi, di depan kepala negara, di hadapan publik. Ini bukan sekadar berani. Ini adalah keteladanan.

MENGAPA INI PENTING? KARENA KIAI TIDAK BICARA SEMBARANGAN

Sobat, di negeri ini, siapa pun bisa mengkritik presiden di media sosial. Siapa pun bisa menulis cuitan pedas, membuat konten provokatif, atau menjadi buzzer yang dibayar untuk memutar narasi. Tapi tidak semua orang bisa berdiri di depan presiden dan mengatakan kebenaran tanpa kehilangan hormat. Dan itulah yang dilakukan Kyai Hasan.

Ia tidak mencaci. Ia tidak menghina. Ia tidak menuduh. Ia hanya berkelakar dengan kelakar yang menyayat. Dengan kelakar yang membuat setiap pejabat yang hadir di ruangan itu mungkin menundukkan kepala, bertanya dalam hati: “Apakah aku termasuk yang dimaksud?”

Ini adalah seni menasihati pemimpin. Seni yang hampir punah di zaman ketika politik telah berubah menjadi panggung hiburan. Seni yang hampir terlupakan di zaman ketika menjilat lebih menguntungkan daripada mengkritik. Dan Kyai Hasan dengan segala kewibawaan seorang ulama sepuh menghidupkan kembali seni itu.

FENOMENA “CARI MUKA”
PENYAKIT LAMA YANG BELUM SEMBUH

Sobat, mari kita jujur. “Cari muka” bukan fenomena baru. Ini penyakit lama yang sudah menjangkiti birokrasi, partai politik, dan istana sejak zaman dahulu. Setiap kali ada pemimpin baru, berbondong-bondong orang datang membawa amplop, proposal, dan janji setia. Setiap kali ada proyek baru, berlomba-lomba orang mendekat demi sepotong kue pembangunan.

Tapi yang paling mengkhawatirkan adalah ketika “cari muka” itu dilakukan dengan memakai simbol agama. Ada yang tiba-tiba memakai baju koko ketika presiden berkunjung ke pesantren. Ada yang tiba-tiba mengutip ayat ketika sedang di depan ulama. Ada yang tiba-tiba berbicara soal akhlak ketika sedang di depan kamera.

“Orang enggak punya muka cari muka.”
Sobat, kalimat itu bukan hanya sindiran. Itu adalah diagnosis. Diagnosis terhadap penyakit sosial yang membuat negeri ini sulit maju. Karena ketika orang yang tidak kompeten mencari jabatan dengan cara menjilat, maka yang terjadi adalah kemunduran. Bukan kemajuan.

PRABOWO DAN UJIAN ADAB

Sobat, pertanyaan yang paling penting sekarang adalah: bagaimana reaksi Prabowo?

Presiden Prabowo Subianto bukan pemimpin yang tidak paham konteks. Ia lulusan AKABRI. Ia mantan Danjen Kopassus. Ia pernah dilatih di Jerman dan Amerika. Ia paham betul bagaimana membaca situasi. Dan ketika Kyai Hasan berkelakar di depannya, Prabowo tersenyum.

Senyum itu bisa berarti banyak hal. Bisa berarti ia menghargai keberanian Kyai Hasan. Bisa berarti ia merasa tersindir. Atau bisa berarti ia menyadari bahwa kelakar itu adalah “pepeling” peringatan dari seorang ulama sepuh yang sudah mengabdikan hidupnya untuk pendidikan bangsa.

Dan sobat. Kalau Prabowo benar-benar ingin dikenang sebagai “Bapak Pembangunan”, maka ia harus mau mendengar. Ia harus mau menerima kritik. Ia harus mau membersihkan istananya dari “orang-orang yang cari muka”. Karena selama “orang-orang cari muka” itu masih berkeliaran di lingkarannya, maka setiap kebijakan yang ia ambil akan selalu dibayangi oleh kepentingan mereka, bukan kepentingan rakyat.

DI BALIK “CARI MUKA”
ADA ORANG YANG CARI IJAZAH, CARI NAMA, CARI UANG

Sobat, mari kita bedah satu per satu apa yang disebutkan Kyai Hasan.