Produk Olahan Pertanian Indonesia Dapat Memainkan Peran Penting di Perdagangan Internasional

Kegiatan Diskusi Gambir Trade Talk (GTT) #16 yang mengusung tema "Peluang dan Tantangan Peningkatan Kompleksitas Ekspor Pertanian Indonesia", yang digelar secara hybrid di Jakarta, Kamis (17/10/2024)/Dok. Humas Kemendag.

“Faktor keragaman dan kecanggihan produk inilah menjadi dua faktor utama penentu indeks ECI Indonesia. Negara-negara berpendapatan tinggi cenderung memiliki nilai ECI yang tinggi, seperti Jepang (2,19), Amerika Serikat (1,56), dan Singapura (1,84),” tambahnya.

Adapun Arief Susanto menerangkan kondisi daya saing produk olahan pertanian nasional. Sawit dan turunannya adalah komoditas andalan Indonesia.
Indonesia adalah produsen dominan dan memiliki keuntungan kompetitif.

“Sedang untuk kopi, kakao, dan kelapa, Indonesia mulai bersaing ketat dengan negara lain,” ungkap Arief.

Sementara itu Anggota Komite Perkebunan Bidang Pertanian dan Kehutanan APINDO, Arief Susantomenyampaikan rekomendasi kebijakan untuk mendukung hilirasi pertanian yang berdaya saing dan berkesinambungan.

“Pertama, menjamin kepastian hukum dan berusaha. Kedua, menjamin ketersediaan dan kemudahan akses bahan baku industri. Ketiga, mendorong investasi di sektor hulu pertanian dan perkebunan,” teragnya.

Keempat, lanjut Arief, mengevaluasi perjanjian perdagangan internasional agar memberikan kesetaraan (level playing field) dengan produk jadi impor dan pengembangan pasar baru.

Sebagai informasi, Diskusi GTT sampai saat ini sudah memasuki seri ke-16. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kolaborasi bersama antara pemangku kebijakan dengan kalangan akademisi serta pemangku kepentingan terkait lainnya.

GTT digelar untuk merumuskan kebijakan yang perlu dipersiapkan oleh pemerintah dalam menghadapi berbagai tantangan, isu, dan fenomena baru dalam dinamika perdagangan global dan nasional.[zul]

Exit mobile version