“Di tengah tantangan geopolitik, seperti konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina, serta distraksi politik akibat pemilu di AS, COP29 menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk menegaskan perannya,” ucap Masyita.
Di COP29, salah satu yang menjadi pembahasan utama adalah New Collective Quantified Goal (NCQG), yang bertujuan menggantikan target pendanaan iklim tahunan senilai USD100 miliar yang telah berakhir pada 2022.
Pendanaan baru ini diproyeksikan mencapai USD2,4 triliun pada tahun 2030, dengan 1 triliun USD di antaranya khusus untuk energi bersih.
“Jika target ini tidak tercapai, dunia berisiko menghadapi kerugian ekonomi global uang sangat besar sebagaimana disampaikan oleh Sekjen PBB Antonio Guterres,” kata Masyita.
Selain itu, forum COP29 juga menandatangani kesepakatan penting terkait perdagangan karbon global, memungkinkan negara-negara yang berhasil mengurangi emisi untuk memperdagangkan kredit karbon.
“Bagi Indonesia, yang tengah membangun pasar karbon domestik, hal ini menjadi kesempatan besar dalam menurunkan emisi sambil menarik investasi internasional,” ungkap Masyita.
Masyita menegaskan bahwa diplomasi iklim tidaklah mudah, terlebih di tengah kondisi geopolitik yang kian kompleks. Indonesia perlu memperkuat posisinya dan menunjukkan komitmen kuat pada penurunan emisi untuk menarik kepercayaan investor global, katanya.
“Di COP29, Indonesia harus menegaskan perannya dalam diplomasi iklim, berkontribusi pada upaya mitigasi global, dan memperjuangkan pendanaan adil bagi negara-negara berkembang yang paling terdampak perubahan iklim,” tutup Masyita.[zul]











