FAKTANASIONAL.NET – Rentetan bencana alam di Maluku berupa kekeringan ekstrem dan gelombang pasang telah memberikan dampak buruk bagi puluhan ribu warga Kabupaten Seram Bagian Timur pada awal Juli 2026.
Data kebencanaan terbaru per Jumat (3/7/2026) menunjukkan bahwa fenomena musim kemarau memicu kekeringan luas sejak bulan Mei lalu.
Krisis air baku melanda berbagai kawasan yang meliputi Kecamatan Bula Bula Barat Seram Timur Pulau Gorom Gorom Timur Kesui Watubela hingga Teor.
Debit pasokan air tanah dari sumur galian warga dan aliran sungai setempat mengalami penyusutan drastis hingga mengering sepenuhnya.
Tercatat sebanyak 7.107 kepala keluarga atau sekitar 24.089 jiwa kesulitan memperoleh pasokan air segar untuk pemenuhan kebutuhan domestik harian.
Selain krisis air bersih wilayah pesisir kabupaten ini juga dihantam gelombang laut pasang akibat peningkatan aktivitas angin muson timur pada Rabu (1/7/2026).
Air laut pasang tersebut menerjang daratan Kecamatan Siritaun Wida Timur Pulau Gorom Kesui Watubela Teor dan Ukar Sengan.
Pihak berwenang mencatat hantaman gelombang pasang merusak 207 bangunan dengan rincian 53 rumah hancur berat dan 154 rumah rusak ringan.
Otoritas setempat menyatakan sedikitnya 1.070 jiwa menjadi korban terdampak langsung dari musibah terjangan gelombang air laut tersebut.
Fenomena cuaca yang memicu rangkaian bencana alam di Maluku ini bertepatan dengan berlanjutnya kondisi anomali iklim El Nino di Samudra Pasifik.
Analisis klimatologi menyebut kondisi ini sangat memengaruhi minimnya potensi pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia timur.
Pemerintah meminta warga meningkatkan kesiapsiagaan secara mandiri dan segera merespons peringatan dini dari badan penanggulangan bencana daerah setempat untuk mengurangi risiko fatalitas.
(*Red)











