Majelis GAZA Gelar Dialog Internasional Terkait Mubasyirat Sebagai Petunjuk Masa Depan Umat

Kagiatan Dialog Internasional bertajuk “Bedah Mimpi (Mubasyirat) Umat di Akhir Zaman, Sebagai Petunjuk Menghadapi Krisis Masa Depan Bangsa dan Dunia” yang berlangsung di Ponpes Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta Selatan, Kamis (1/5/2025)/zul-fkn.

Terkait dengan apa yang dilakukan Majelis GZA ini, menurut mantan Ketua JATMAN (Jam’iyyah Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah) sangat menarik, karena ini dikaitkan dengan geopolitik.

“Islam dan geopolitik tidak bisa dipisahkan, secara pelan atau lambat Umat Islam akan mendatangi geopolitik atau geopolitik itu sendiri yang akan mendatanginya,”jelas KH Wahfiudin Sakam.

Mantan Ketua Umum PBNU, K.H. Aqil Siroj mengapresiasi kegiatan ini, dan beliau menguraikan dari sisi keagamaanya (Islam), baik terkait dengan apa yang dimiliki oleh setiap Insan dan juga tentang tiga jenis mimpi.

Pertama, mimpi yang baik, merupakan kabar gembira dari Alloh SWT dan dapat ditafsirkan. Kedua, mimpi yang disebabkan oleh bawaan pikiran, mimpi ini muncul karena aktivitas atau pikiran seseorang ketika terjaga, dan Ketiga, mimpi yang menyedihkan, mimpi ini berasal dari setan dan sebaiknya tidak diceritakan kepada orang lain.

Terkait mimpi-mimpi Muhamad Qosim dari Pakistan yang dikumpulkan Majelis GAZA, KH Said berpandangan, mungkin juga bisa benar dan mungkin juga tidak.

“Apa yang dilakukan Diki Candra dengan Majelis Gaza, ini merupakan sebuah kreatifitas, dan mubasyirat ini perlu untuk terus dikaji dan dikembangkan,”jelas KH Said Aqil Siroj.

Disisi lain, KH Abdul Wahid Maktub lebih banyak menguraikan pengalamanya keliling ke berbagai negara, dan menurut beliau dibalik gemerlapnya dunia barat yang konon disebut sebagai dunia moderen, ada kehampaan spiritual dari manusia moderen tersebut. Sehingga banyak diantara mereka rindu akan hadirnya nilai-nilai spiritual dalam kehidupanya.

Mantan Dubes untuk Qatar juga menyampaikan bahwa dirinya terus mengikuti sebuah kajian tentang teknologi dari Jepang yang fokus pada teknologi, namun diakuinya bahwa konsep ini juga mengakui pentingnya nilai-nilai spriritualitas, seperti keharmonisan, kebaikan dan tanggung jawab social dalam kehidupan masyarakat.

Hal ini menunjukan bahwa kajian teknologi tersebut dapat membawah perubahan dalam kehidupan beragama, dan perlu dipertimbangkan oleh pemikir dan pemimpin agama untuk mengatasi tantangan keagamaan di era digital.

Dalam kesempatan tersebut Rektor President University juga snagat mengapresiasi adanya kajian mubasyirat yang dilakukan Majelis GAZA ini.

“Kedepan perlu adanya langkah-langkah yang harus terus dilakukan, untuk menghidupkan kembali Al Mubasyirat ini dengan prespektif ilmiah, tentunya,” kata KH Abdul Wahid Maktub. [zul]