Penetapan SB sebagai pihak utama bukan tanpa alasan: ia pernah terjerat korupsi dan memiliki relasi kuat dengan oknum aparat, sehingga keberanian menyimpan emas dalam jumlah masif pun terkesan “kebal hukum.”
Menanggapi temuan ini, Uchok Sky Khadafi, Direktur Center of Budget Analysis (CBA), menyebut penggerebekan bukan semata aksi penegakan hukum, melainkan sinyal perang terbuka antar jaringan emas ilegal.
“Kenapa hanya SB yang ditindak? Kenapa bandar besar lain seperti AS, yang sudah santer disebut ‘Raja Emas Ilegal,’ belum pernah tersentuh?” tegas Uchok kepada Faktakalbar.id.
Menurutnya, inisial AS telah lama beroperasi dengan backing kuat.
Peristiwa di Pontianak Selatan ini justru memperkuat dugaan perebutan pasar emas ilegal, di mana satu jaringan dijegal agar jaringan lain memperoleh dominasi.
Penangkapan LS dan penggeledahan ruko SB menandai babak baru operasi Polda Kalbar dalam memberantas PETI dan perdagangan emas hitam.
Sebelumnya, petugas juga menjerat penampung emas inisial LK di Melawi dan mengungkap tiga bos emas di Kapuas Hulu. Namun, belum ada tindakan signifikan terhadap “bos” terbesar, AS.
Tantangan ke depan adalah menyisir rantai distribusi emas ilegal hingga level atas, menutup celah korupsi dan kolusi, serta memulihkan kerusakan lingkungan pasca‑tambang.[tim]










