Alih-alih menggenjot pinjaman ke sektor riil, banyak bank lebih memilih menempatkan kelebihan likuiditas mereka pada instrumen surat berharga yang dianggap lebih aman dan rendah risiko.
Fenomena ini didukung oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang naik sebesar 7% yoy, yang berarti bank memiliki banyak dana namun enggan menyalurkannya secara agresif dalam bentuk kredit.
Dari sisi permintaan, perlambatan kredit mencerminkan bahwa korporasi belum sepenuhnya ekspansif. Banyak perusahaan yang masih mengandalkan sumber pembiayaan internal untuk modal kerja mereka ketimbang mengajukan pinjaman baru. Meskipun demikian, pertumbuhan kredit investasi masih menjadi yang tertinggi dengan angka 12,42% yoy, didorong oleh sektor berorientasi ekspor.
Sebaliknya, kredit modal kerja tumbuh sangat tipis di angka 3,08% yoy. Di tengah tantangan ini, BI tetap optimistis dan akan terus mendorong penyaluran kredit melalui berbagai kebijakan makroprudensial, dengan menargetkan pertumbuhan kredit keseluruhan tahun 2025 berada di rentang 8-11%.[dit]
