Intinya, bukan jumlah porsi yang jadi ukuran utama, tapi keamanan dan konsistensi makanan yang sampai ke anak-anak.
Jalan Keluar
Apa yang bisa dilakukan agar niat baik tidak lagi berubah jadi risiko?
1. Tegakkan standar keamanan pangan. Setiap dapur wajib mencatat suhu makanan, memastikan makanan matang di atas 75 °C, dan tidak dibiarkan lebih dari dua jam di suhu ruang.
2. Sederhanakan menu. Untuk skala massal, pilih menu yang tahan lama: nasi, lauk kering, sayur bening, buah utuh, atau susu UHT. Hindari menu bersantan pekat atau sayur mentah.
3. Perkuat distribusi. Gunakan boks berinsulasi atau alat pendingin sederhana. Waktu pengiriman harus dibatasi maksimal satu jam dari dapur ke sekolah.
4. Transparansi data. Publikasi dashboard insiden secara terbuka. Orangtua berhak tahu makanan yang disajikan aman.
5. Stop–go berbasis dapur. Jika satu dapur bermasalah, hentikan distribusi hanya di sana sampai audit selesai, bukan seluruh program.
6. Libatkan sekolah dan masyarakat. Guru, komite sekolah, dan orangtua bisa menjadi pengawas harian.
Penutup
Program Makan Bergizi Gratis adalah niat baik yang patut kita dukung. Namun niat saja tidak cukup. Ribuan anak yang menjadi korban keracunan adalah alarm keras bahwa keamanan pangan harus menjadi syarat utama.
Ke depan, keberhasilan program ini tidak akan diukur dari berapa miliar porsi yang dibagikan, tetapi dari rasa percaya orangtua bahwa anak-anak mereka bisa makan dengan aman, sehat, dan bermartabat di sekolah.[***]
Oleh: Prof. (HC) Dr. Pius Lustrilanang, S.Ip., M.Si.











