Syahganda bahkan melontarkan dugaan skeptis mengenai kehadiran Jokowi di forum-forum elit global pasca-lengser. Ia mencurigai bahwa undangan tersebut tidak murni karena prestasi, melainkan ada mekanisme transaksional atau berbayar. Menurutnya, sebagai mantan pejabat yang kini menjadi warga sipil biasa, sulit membayangkan korporasi bisnis global mengundang tanpa adanya kepentingan komersial.
Kapasitas Bahasa dan Reputasi
Lebih jauh, pengamat politik ini menyoroti keterbatasan kemampuan bahasa asing Jokowi yang dinilainya menjadi kendala dalam diplomasi tingkat tinggi yang sesungguhnya. Syahganda menegaskan bahwa apresiasi dari lembaga asing seringkali bias dan tidak mencerminkan realitas substantif kepemimpinan yang dirasakan di dalam negeri, sehingga publik tidak perlu terlalu terbuai dengan label-label positif dari luar.[dit]
