Di saat sebagian masyarakat sibuk memperdebatkan legitimasi Polri, mereka justru menghadapi kenyataan paling kejam. Tangis kehilangan, asa yang hampir hilang, dan harapan tipis yang harus dijaga agar tidak padam.
Delegitimasi yang membabi buta sering kali lupa pada wajah-wajah ini. Ia mereduksi kerja kemanusiaan dengan berbagai cara.
Padahal, kepercayaan publik tidak dibangun hanya melalui regulasi atau pernyataan resmi, melainkan melalui pengalaman langsung warga yang merasakan kehadiran negara di saat paling membutuhkan.
Di Sumatera, pengalaman itu hadir melalui Bhakti Polri yang bekerja tanpa syarat, tanpa memilih, dan tanpa menunggu pujian.
Bukan berarti Polri kebal kritik. Pembenahan tetap mutlak diperlukan. Namun, di tengah tuntutan perubahan itu, ada nilai yang tak boleh dihapus: pengabdian.
Ketika bencana merenggut segalanya, pengabdian aparat kepolisian menjadi penopang terakhir agar masyarakat tidak merasa sendirian. Di situlah legitimasi sejati bertumbuh. Bukan dari kata-kata, tetapi dari tindakan.
Sumatera, dengan luka-luka bencananya, menjadi Saksi bahwa di balik seragam yang kerap diperdebatkan, ada manusia-manusia yang memilih tetap hadir.
Di tengah badai delegitimasi, Bhakti Polri menjelma bukan sekadar tugas institusional, melainkan ikrar kemanusiaan. Bahwa negara, lewat tangan aparatnya, masih berdiri di sisi rakyat ketika semuanya runtuh.
Jakarta, 26 Desember 2025
Oleh: R. HAIDAR ALWI (Pemikir Bangsa/Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Keluarga Alumni ITB)
