Opini  

Muhasabah di Ujung Usia: Jika Ini Ramadhan Terakhirku ?

"Ilustrasi"
(Dok. Ilustrasi AI)

FAKTANASIONAL.NET, OPINI – Subuh belum lama berlalu. Di beranda rumah yang mulai sepi, saya menyeruput koptagul—kopi tanpa gula—hangat yang menguar pelan. Pahitnya jujur. Seperti usia yang tak lagi muda. Seperti Ramadhan yang kini terasa berbeda.

Dulu, Ramadhan identik dengan euforia: menu berbuka, pakaian baru, toples kue yang berderet rapi. Kita merasa hidup masih panjang.

Waktu seperti sungai yang tak akan kering.
Kini, sungai itu terasa menyempit.
Ramadhan datang dengan getar yang lebih dalam. Ia bukan lagi perayaan semata, melainkan panggilan pulang.

Baca Juga: Warga Ketol Aceh Tengah Mulai Tempati 252 Unit Huntara Sebelum Ramadan

Usia bukan sekadar angka, tetapi alarm spiritual yang berdenting halus. Kita mulai melihat kawan sebaya terbaring sakit. Ada yang berpulang tanpa banyak tanda. Nama-nama yang dulu tertawa bersama kini hanya tersisa di undangan tahlil.

Dan hati pun bertanya lirih: Jika ini Ramadhan terakhirku, sudah siapkah aku?
Al-Qur’an mengingatkan,

“Kullu nafsin dzaaiqatul maut.”
Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati (QS. Ali ‘Imran: 185).

Ayat itu sederhana, tetapi mengguncang. Ia tidak menyebut usia. Tidak menyebut jabatan. Tidak menyebut kesiapan. Kematian bukan soal jadwal, melainkan kepastian.

Di usia kini, fisik tak lagi sekuat dulu. Puasa harus lebih hati-hati. Asam lambung memberi sinyal. Lutut berderak sebelum berdiri tarawih. Namun justru di situlah letak maknanya: tubuh yang melemah memaksa jiwa untuk lebih bersandar kepada Allah.

Ramadhan bukan lagi tentang terlihat rajin. Bukan lomba khatam tercepat. Bukan pula panggung kesalehan digital. Ia adalah ruang sunyi untuk rekonsiliasi batin.
Rasulullah ﷺ bersabda:

“Man shaama Ramadhaana iimaanan wahtisaaban, ghufira lahu maa taqaddama min dzambih.”
Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan penuh pengharapan pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. Bukhari dan Muslim).

Kata kuncinya: iman dan ihtisab—kesadaran dan keikhlasan. Bukan rutinitas kosong.
Karena jujur saja, dosa masa muda kita tidak sedikit.

Lisan yang pernah melukai. Waktu yang terbuang. Shalat yang ditunda. Orang tua yang mungkin kita kecewakan. Ramadhan hadir seperti kesempatan ulang.

Seolah Allah berbisik, “Masih ada waktu. Perbaiki.”
Di usia ini pula, kita sadar: anak-anak sedang melihat. Cara kita menyambut Ramadhan akan mereka tiru. Jika yang mereka lihat hanya dapur dan dekorasi, itulah yang mereka anggap inti.