Fakta Nasional

Krisis Stunting di Mata Prabowo: Ironi 25 Persen Anak Indonesia yang Terungkap di Washington

FAKTANASIONAL.NET, INTERNASIONAL – Di tengah agenda penguatan kerja sama ekonomi dalam kunjungan resminya ke Amerika Serikat, Presiden Prabowo Subianto membawa narasi yang kontras dan jujur mengenai kondisi sumber daya manusia (SDM) di tanah air. Di…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: admin Editor: Redaksi 📍 Nasional Friday, 20 February 2026 📖 2 menit
Krisis Stunting di Mata Prabowo: Ironi 25 Persen Anak Indonesia yang Terungkap di Washington
Presiden Prabowo dalam pertemuan di Washington DC. (Dok. Website/Presiden.go.id)

FAKTANASIONAL.NET, INTERNASIONAL – Di tengah agenda penguatan kerja sama ekonomi dalam kunjungan resminya ke Amerika Serikat, Presiden Prabowo Subianto membawa narasi yang kontras dan jujur mengenai kondisi sumber daya manusia (SDM) di tanah air.

Di hadapan para pelaku usaha global, Presiden membedah kenyataan pahit mengenai prevalensi stunting yang masih menghantui seperempat populasi anak Indonesia.

Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa komitmennya terhadap pembangunan SDM dan pertumbuhan ekonomi inklusif bukan sekadar angka statistik, melainkan berangkat dari temuan personal saat dirinya turun langsung ke pelosok desa.

Dalam sesi roundtable Business Summit yang berlangsung Rabu (18/2/2026), Prabowo berbagi cerita tentang interaksinya dengan anak-anak di pedesaan yang secara fisik tidak sesuai dengan usia kronologis mereka.

Baca Juga: Prestasi Badan Gizi Nasional: Bangun 23 Ribu Satuan Pelayanan dalam Setahun

“Saya menanyakan usia mereka dan anak-anak yang saya kira berusia empat, lima, enam tahun, ternyata berusia sepuluh, sebelas, dua belas tahun. Kemudian saya mengetahui bahwa 25 persen anak-anak kita mengalami stunting, pertumbuhan terhambat,” ucap Presiden dalam sambutannya di Washington DC.

Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa hambatan fisik tersebut merupakan sinyal bahaya bagi daya saing ekonomi Indonesia di masa depan.

Stunting bukan hanya masalah kesehatan, melainkan ancaman bagi produktivitas nasional dalam jangka panjang.

Prabowo menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang inklusif tidak akan tercapai selama diskrepansi kualitas hidup masih terjadi di tingkat akar rumput.

Baginya, mustahil mengundang investasi besar tanpa membenahi fondasi dasar manusia yang akan menjalankan roda ekonomi tersebut.

Pemerintah saat ini menargetkan percepatan penurunan angka stunting melalui berbagai program strategis, termasuk penguatan gizi nasional yang menjadi salah satu pilar kebijakan utamanya.

Keberanian Presiden mengungkap data "dapur" di kancah internasional ini dinilai sebagai upaya untuk menarik kolaborasi strategis dalam pengembangan teknologi pangan dan kesehatan.

Prabowo menekankan bahwa ekonomi yang kuat harus berdiri di atas kaki generasi yang sehat secara fisik dan kognitif.

Kunjungan kerja ke Washington ini tidak hanya membawa misi perdagangan, tetapi juga menjadi panggung bagi Presiden untuk menunjukkan bahwa pemberantasan stunting adalah prioritas kedaulatan nasional yang tidak bisa ditawar.

Baca Juga: Badan Gizi Nasional Prioritaskan Ibu Hamil dan Balita dalam Program Makan Bergizi Gratis


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK