“Yang pasti kami menyampaikan lagi keinginan dari Bapak Presiden untuk menjadi mediator dalam upaya mendinginkan dan menurunkan eskalasi di wilayah tersebut. Dan ini merupakan pandangan-pandangan yang juga beliau (Araghchi) terima,” jelasnya.
Namun, Sugiono menggarisbawahi bahwa efektivitas mediasi sangat bergantung pada kemauan politik dari pihak-pihak yang bertikai.
“Yang pasti Indonesia ingin ada dalam posisi bahwa bagaimana kita bisa menjadi jembatan perbedaan, menawarkan kesiapan kita, menawarkan diri kita,” tegas Sugiono.
Konteks Eskalasi Militer
Situasi di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah terjadi saling balas serangan pada Sabtu (28/2/2026).
Konflik yang melibatkan Israel, AS, dan Iran ini memicu kekhawatiran global akan terjadinya perang skala luas.
Sebagai bentuk komitmen nyata, Kementerian Luar Negeri sebelumnya menyatakan bahwa Presiden Prabowo siap melakukan kunjungan diplomatik langsung ke Teheran apabila kedua belah pihak sepakat untuk menempuh jalur perundingan.
Indonesia terus menyerukan agar seluruh pihak menahan diri dan kembali ke meja diplomasi, mengingat kegagalan perundingan sebelumnya telah berdampak pada jatuhnya korban dan rusaknya stabilitas keamanan kawasan.











