Karena itu, setiap kali aktivis KontraS menjadi korban kekerasan, memori kolektif publik langsung kembali pada pola lama: intimidasi terhadap aktivis HAM yang bersinggungan dengan kekuasaan.
Apakah kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus terkait dengan politik? Belum tentu. Apakah ada kaitan langsung dengan pernyataan presiden? Juga belum tentu.
Namun dalam politik, persepsi publik sering kali dibentuk bukan hanya oleh fakta yang berdiri sendiri, tetapi oleh rangkaian peristiwa yang muncul dalam waktu yang berdekatan.
Serangan terhadap aktivis, disusul retorika keras terhadap pengkritik, dan bayang-bayang sejarah pembunuhan aktivis HAM—kombinasi ini menciptakan satu atmosfer yang berbahaya bagi demokrasi.
Para ilmuwan politik menyebutnya sebagai chilling effect: situasi ketika orang memilih diam karena merasa berbicara terlalu berisiko.
Demokrasi tidak runtuh dalam satu malam. Ia biasanya melemah secara perlahan, dimulai dari menyempitnya ruang kritik, meningkatnya intimidasi terhadap masyarakat sipil, dan normalisasi retorika kekuasaan yang memandang kritik sebagai ancaman.
Indonesia pernah mengalami masa ketika aktivis diculik, dibungkam, bahkan dibunuh. Reformasi 1998 berusaha memastikan bahwa masa itu tidak terulang kembali.
Karena itu, ujian sebenarnya bagi demokrasi Indonesia hari ini bukan hanya terletak pada pemilu atau angka pertumbuhan ekonomi, tetapi pada satu pertanyaan apakah seorang aktivis masih bisa mengkritik kekuasaan tanpa takut kehilangan keselamatannya?
Jika jawabannya mulai meragukan, maka demokrasi sesungguhnya sedang berada dalam bahaya.
HAMDI PUTRA
Forum Sipil Bersuara (FORSIBER)
