Pernyataan bahwa yang mengkritik rupiah adalah “orang yang tidak punya duit” adalah contoh komunikasi ekonomi yang keliru. Kritik terhadap nilai tukar bukanlah soal siapa yang kaya atau miskin. Ia adalah bagian dari mekanisme kontrol publik terhadap kebijakan ekonomi.
Banyak pihak yang mengkritik rupiah justru berasal dari kalangan yang paling memahami pasar. Ekonom, analis keuangan, investor institusional, hingga pelaku industri. Mereka membaca data, bukan sekadar menyebarkan pesimisme.
Dalam ekonomi modern, kredibilitas pemerintah adalah aset yang sangat mahal. Pasar tidak hanya melihat angka APBN, tetapi juga memperhatikan bagaimana pemerintah berbicara tentang ekonomi.
Pernyataan yang defensif atau meremehkan kritik sering kali dibaca sebagai tanda ketidaknyamanan terhadap fakta.
Jika rupiah terus bergerak menuju level psikologis Rp17.000 per dolar, pasar tentu akan semakin sensitif. Bukan hanya karena angka itu sendiri, tetapi karena ia bisa menjadi simbol menurunnya kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi.
Stabilitas mata uang tidak ditentukan oleh seberapa keras pemerintah membantah kritik. Ia ditentukan oleh disiplin fiskal, konsistensi kebijakan, dan kredibilitas komunikasi ekonomi.
Dan selama enam bulan terakhir, pasar tampaknya sedang mengirim pesan yang cukup jelas.
Rupiah mungkin belum jatuh. Tetapi arahnya sudah terlihat.
HAMDI PUTRA
Forum Sipil Bersuara (FORSIBER)
