“Daripada saya disorak-soraki, seolah-olah jadi pahlawan, pahlawan kebenaran, pahlawan ini itu, tetapi menyembunyikan kebenaran itu. Karena sudah saya uji dengan 3 variabel, yaitu 2 variabel geometri, translasi, rotasi, dan pencahayaan. Itu semua mengoreksi temuan saya,” terangnya secara mendetail.
Tantangan Transparansi bagi Rekan Sejawat
Dalam kesempatan yang sama, Rismon menyatakan kesiapannya untuk mempertanggungjawabkan metode penelitiannya tersebut secara terbuka.
Ia juga mengajak rekan-rekan sesama ahli atau pihak yang masih meragukan keaslian dokumen tersebut untuk berani mengungkap fakta demi kebenaran ilmiah, meskipun berisiko menghadapi tekanan sosial.
”Jangan sembunyikanlah, ayolah. Meskipun awalnya kalian akan dianggap pengkhianat, itu akan lebih ringan daripada kalian sembunyikan,” tuturnya.
Rismon menekankan bahwa mengungkapkan hasil temuan sesuai fakta di lapangan jauh lebih penting daripada mempertahankan narasi tertentu demi mendapat dukungan publik.
Ia berharap langkah transparansi ini dapat meredam perdebatan mengenai keaslian dokumen pendidikan kedua tokoh negara tersebut.










