“Riset harus berdampak. Semangat yang kita dorong kepada para periset BRIN adalah semangat Khairunnas—menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain melalui riset dan inovasi,” sambungnya.
Sementara itu, Pendiri UAG sekaligus ESQ Corp, Prof. (Hor) Ary Ginanjar Agustian, menyoroti pentingnya identifikasi talenta sejak dini.
Menurutnya, pengembangan sumber daya manusia (SDM) memerlukan arah yang tepat agar investasi pada sektor riset tidak sia-sia.
UAG sendiri telah mengembangkan pendekatan manajemen talenta berbasis data yang telah diuji coba kepada sekitar 1.100 periset BRIN, dan direncanakan akan menyasar ribuan periset lainnya di masa mendatang.
“Kalau kita bisa menemukan orang yang tepat dan mengembangkannya, maka riset kita akan punya dampak besar. Ini yang ingin kita dorong bersama, agar Indonesia ke depan benar-benar menjadi negara berbasis riset,” ujar Ary Ginanjar.
Melalui sinergi ini, kedua belah pihak berharap dapat menciptakan ekosistem riset yang lebih solid dan berbasis pada pemetaan talenta yang akurat untuk mendukung kemajuan inovasi di Indonesia.







