BMKG: Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Curah Hujan Diprediksi di Bawah Normal
FAKTANASIONAL.NET – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan mengenai karakteristik musim kemarau tahun 2026 yang diprediksi lebih menantang. Musim kering tahun ini diperkirakan akan menyambangi wilayah Indonesia…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan mengenai karakteristik musim kemarau tahun 2026 yang diprediksi lebih menantang.
Musim kering tahun ini diperkirakan akan menyambangi wilayah Indonesia lebih awal, yakni pada periode April hingga Mei, dan bertahan dalam durasi yang cukup panjang hingga September, bahkan berpotensi berlanjut hingga awal tahun berikutnya.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa pola pergerakan kemarau akan dimulai dari wilayah Indonesia timur menuju ke barat.
Berdasarkan analisis data historis, mayoritas wilayah di Indonesia akan menghadapi kondisi yang lebih kering dari biasanya.
“Jadi, Indonesia itu memiliki 699 zona musim. Nah, sebagian besar zona musim di Indonesia itu memiliki rata-rata hujannya di tahun ini itu lebih rendah dari rata-rata hujan selama 30 tahun terakhir,” ujar Teuku Faisal di Jakarta, Senin (6/4).
Pantauan Fenomena El Nino
Selain siklus musiman, BMKG juga menyoroti adanya pengaruh fenomena global El Nino yang saat ini terpantau berada pada level lemah hingga moderat.
Meski kekuatannya belum menyamai kondisi ekstrem pada tahun 2019, kehadiran El Nino tetap menjadi faktor pemicu berkurangnya curah hujan secara signifikan di tanah air.
“Kemudian juga, selain kemarau, kita juga mengenal ada El Nino, saat ini kita pantau, saat ini El Nino-nya masih lemah hingga moderate, kemudian harapannya lagi kita akan terus pantau apa yang terjadi tahun ini hingga di tahun 2020 nanti,” jelas Teuku. (Catatan: Konteks pemantauan terus berlanjut untuk periode mendatang).
Langkah Mitigasi dan Modifikasi Cuaca
Menghadapi potensi kekeringan ini, BMKG telah memperketat pengawasan melalui pemantauan rutin mulai dari skala harian hingga dasarian (per 10 hari).
Sinergi lintas lembaga juga diperkuat, termasuk kolaborasi bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk melaksanakan operasi modifikasi cuaca guna mengisi waduk-waduk atau membasahi lahan gambut yang rawan.
Peringatan Karhutla
Mengingat risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang diprediksi meningkat drastis akibat kemarau panjang, BMKG memberikan imbauan tegas kepada masyarakat dan sektor korporasi.
Pemerintah meminta agar tidak ada pihak yang melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar.
Koordinasi antara kementerian terkait dan pemerintah daerah terus dioptimalkan untuk memastikan dampak kemarau, baik terhadap ketahanan pangan maupun kualitas udara, dapat ditekan seminimal mungkin.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.