Gubernur Kalteng Sebut “Bercerai Kita Kawin Lagi”, Generasi Bangsa Jangan Sampai Salah Tafsir, Ini Pribahasa yang Benar!
FAKTANASIONAL.NET - Pernyataan Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran mengenai persatuan menjadi perbincangan publik setelah ia melontarkan ungkapan “Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi”. Kalimat tersebut disampaikan saat membahas penan…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Pernyataan Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran mengenai persatuan menjadi perbincangan publik setelah ia melontarkan ungkapan “Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi”.
Kalimat tersebut disampaikan saat membahas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah.
Ungkapan itu menarik perhatian karena berbeda dari peribahasa yang dikenal luas dalam bahasa Indonesia.
Peribahasa yang benar adalah “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Maknanya menekankan pentingnya persatuan, kekompakan, dan kebersamaan dalam menghadapi persoalan.
Agustiar menyampaikan pernyataan tersebut ketika menjelaskan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Ia juga menyebut bahwa sebagian besar kebakaran dipicu oleh aktivitas manusia.
“Sebenarnya sama aja, takdir juga, tapi banyak ulah manusianya. Hampir 97 persen tuh akibat manusianya,” kata Agustiar.
Ia kemudian mengaitkan upaya menghadapi karhutla dengan pentingnya kebersamaan.
“Karena bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi,” katanya.
Pernyataan itu kemudian beredar di media sosial dan memunculkan beragam tanggapan.
Perhatian publik tidak hanya tertuju pada pilihan kata yang digunakan, tetapi juga pada konteks penyampaiannya ketika persoalan karhutla masih menjadi tantangan di Kalimantan Tengah.
Peribahasa “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” menggambarkan bahwa kekuatan dapat tumbuh melalui persatuan, sedangkan perpecahan berpotensi melemahkan kemampuan menghadapi masalah.
Sementara itu, ungkapan “bercerai kita kawin lagi” merupakan perubahan dari susunan peribahasa tersebut.
Kalimat itu dapat dipahami sebagai seloroh, tetapi bukan bentuk peribahasa baku yang lazim digunakan untuk menyampaikan pesan persatuan.
Dalam konteks kepemimpinan, pilihan kata juga menjadi bagian penting dari komunikasi kepada masyarakat.
Terlebih, pembahasan mengenai karhutla berkaitan dengan bencana yang berdampak terhadap lingkungan dan kehidupan warga.
Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi PKB, Daniel Johan, turut menanggapi pernyataan tersebut. Ia menilai pemimpin perlu menunjukkan empati kepada masyarakat yang terdampak bencana.
“Meskipun niatnya bercanda tapi tidak pada tempatnya karena kondisi masyarakat yang sedang mengalami musibah,” kata Daniel.
Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya ketepatan ungkapan dalam komunikasi publik, terutama ketika seorang pejabat berbicara mengenai persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat luas.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.