Cokro Manggilingan: Rahasia Kebijaksanaan Hidup Orang Jawa

Cokro Manggilingan: Rahasia Kebijaksanaan Hidup Orang Jawa

Megatruh: Fase terpisahnya (pegat) roh dari jasad. Kematian.

Pucung: Akhir perjalanan di alam mado, ketika jasad dibungkus kain kafan (pocong) menuju alam wusono.

Perputaran Zaman Makro Menurut Ronggowarsito

Jika Mocopat adalah skala mikro (individu), maka Pujangga Besar R. Ng. Ronggowarsito memetakan Cokro Manggilingan dalam skala makro (peradaban/negara) melalui tiga fase zaman:

Zaman Kolotido: Zaman keraguan dan keegoisan. Terjadi setelah sebuah era mencapai kemapanan. Orang mulai mencari kesenangannya sendiri, akal sehat diremehkan, dan kebenaran ditafsirkan sesuka hati demi kepentingan pribadi.

Zaman Kolobendu: Puncak dari Kolotido. Inilah zaman edan. Segalanya tampak stabil, namun stabil dalam ketidakberesan. Kejahatan dipuja bak pahlawan, kejujuran ditertawakan, ketidakadilan dibiarkan demi kenyamanan segelintir elite.

Zaman Kolosubo: Titik terang setelah gelap paripurna. Zaman ini lahir sebagai solusi atas hancurnya tata nilai di era Kolobendu, ditandai dengan hadirnya tokoh pembebas yang didukung oleh orang-orang yang senantiasa eling lan waspada.

Siklus ini akan terus berputar. Kolosubo yang makmur pada akhirnya akan memunculkan keegoisan baru yang memicu kembali Kolotido.

Prinsip Hidup Cokro Manggilingan

Menyadari bahwa hidup senantiasa berputar, manusia Jawa membekali dirinya dengan berbagai prinsip kebijaksanaan agar tidak hancur saat berada di bawah, dan tidak lupa daratan saat berada di atas.

1. Triwikromo: Menaklukkan Tiga Masa

Triwikromo adalah keteguhan hati untuk menguasai masa lalu, masa kini, dan masa depan. Rumusnya sederhana namun mendalam: Belajarlah dari kesalahan masa lalu, perbaiki tindakan di masa kini, demi memanen kebahagiaan di masa depan. Jangan sampai kita jatuh ke lubang yang sama berulang kali.

2. Sangkan Paraning Dumadi (Kesadaran Teologis)

Kesadaran bahwa hidup kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un). Hidup di dunia ibarat mampir ngombe (mampir sebentar untuk minum) atau transit di rest area sebelum melanjutkan perjalanan abadi. Jangan sampai kita terlena di tempat transit hingga lupa tujuan utama.

3. Memayu Hayuning Bawono (Kesadaran Ekologis & Sosial)

Dunia ini sudah indah sejak diciptakan. Tugas kita sebagai manusia adalah memperindah keindahan tersebut, bukan merusaknya. Caranya adalah dengan menanamkan kebaikan secara aktif, dan menahan hawa nafsu dari perbuatan merusak secara pasif.

4. Mulur Mungkret & Gelemi Kahanan (Pandangan Ki Ageng Suryomentaram)

Ki Ageng Suryomentaram mengajarkan bahwa rasa hidup manusia di seluruh dunia, dari raja hingga kuli, rasanya sama saja: sebentar senang, sebentar susah.

Mulur Mungkret: Keinginan manusia itu selalu memanjang (mulur) saat cita-citanya tercapai, dan menyusut (mungkret) saat ia gagal. Karena siklusnya selalu begitu, hadapilah hidup dengan santai. Tidak ada sesuatu di kolong langit ini yang pantas dikejar mati-matian atau ditolak mati-matian.

Gelemi Kahanan: Prinsip penerimaan realitas secara total. Saiki, ning kene, ngene, aku gelem (Sekarang, di sini, seperti ini keadaannya, aku terima). Penerimaan bukan berarti pasif. Setelah Tadah (menerima kenyataan), kita harus Pradah (mau repot memperbaiki keadaan demi sesama), dan Ora Wegah (tidak malas dan tidak menunda-nunda berbuat baik).

“Ojo”: Rem Cakram Kehidupan Jawa

Untuk menjaga kestabilan jiwa saat roda kehidupan berputar, masyarakat Jawa memiliki sistem “rem” yang dikenal dengan larangan Ojo (Jangan).

Ojo Dumeh, Eling, lan Waspodo: Ini adalah trilogi utama. Ojo dumeh (jangan mentang-mentang sombong karena punya sedikit kelebihan kekayaan, jabatan, atau rupa). Eling (selalu ingat kepada Tuhan). Waspodo (berhati-hati dalam bertindak di tengah masyarakat).

Ojo Adigang, Adigung, Adiguna: Jangan menyombongkan kekuatan, kekuasaan, dan kepandaian. Di atas langit masih ada langit.

Ojo Gumunan, Getunan, Kagetan, Aleman: Jangan mudah kagum (agar tidak mudah ditipu), jangan mudah menyesal (karena itu tanda kita bertindak sembrono), jangan mudah kaget (agar pikiran tetap jernih), dan jangan manja (harus mandiri, tidak melulu minta dilayani).

Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan, Lan Kemareman: Jangan sudi diperbudak oleh jabatan, harta kekayaan, dan kesenangan duniawi sesaat.

Ojo Kuminter Mundak Keblinger, Ojo Cidro Mundak Ciloko: Jangan sok pintar agar tidak tersesat dan menyesatkan orang lain. Jangan berbuat curang dan khianat karena pada akhirnya kejahatan itu akan mencelakakan dirimu sendiri.

Ojo Milik Barang Kang Melok: Jangan merasa memiliki apa pun yang melekat padamu. Harta, jabatan, bahkan keluarga hakikatnya hanyalah titipan Tuhan yang harus dikelola, bukan untuk diklaim secara mutlak.

Ojo Nggege Mongso: Jangan terlalu ambisius memaksakan kehendak yang berada di luar kendalimu. Segala sesuatu ada waktunya.

Penutup: Nikmati Proses Hidupmu

Sebagai penutup, menghadapi putaran Cokro Manggilingan membutuhkan keikhlasan untuk mengamalkan prinsip Alon-alon waton kelakon – fokus, konsisten, dan nikmati proses tanpa harus mengorbankan kewarasan demi pragmatisme instan.

Hukum alam tidak pernah meleset: Sopo nandur bakal ngunduh (Siapa yang menanam, dia yang akan menuai). Jangan pernah lelah berbuat baik, sekalipun saat ini roda nasib Anda terasa sedang tergilas di bawah.

Ketahuilah bahwa Gusti Allah Ora Sare (Tuhan Tidak Pernah Tidur). Kebaikan yang Anda tanam hari ini, pasti akan Anda panen kelak, entah di alam Mado maupun di alam Wusono.

Mari menaklukkan roda kehidupan dengan kebijaksanaan, belajar dari masa lalu, berbuat maksimal di masa kini, dan menyongsong masa depan dengan jiwa yang utuh.[dit]