FAKTANASIONAL.NET – Klaim Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto kalau “60% investasi di Indonesia menghasilkan laba tertinggi di ASEAN” sebenarnya cuma jualan narasi yang sengaja dipoles supaya kita merasa paling hebat secara ekonomi.
Kalau kita mau sedikit repot membedah sumber aslinya, yaitu laporan JETRO 2025, kenyataan yang ada di lapangan justru jauh lebih pahit dan sama sekali tidak mendukung kesimpulan bombastis yang digembar-gemborkan itu.
Anehnya, angka yang dipakai dalam narasi publik saja sudah ngawur. Data aslinya mencatat ada 69,1% perusahaan Jepang di Indonesia yang memproyeksikan laba di tahun 2025, bukan 60%.
Selisih ini bukan sekadar salah hitung, tapi indikasi kalau data cuma dipilih secara serampangan buat kepentingan pencitraan.
Klaim “tertinggi di ASEAN” pun langsung basi saat kita lihat tetangga. Vietnam di angka 67,5%, Singapura 66,8%, Thailand 63,3%, dan Malaysia 62,5%.
Dengan selisih yang tipis begitu, Indonesia sebenarnya cuma satu gerombolan sama negara lain, bukan pemimpin pasar yang dominan seperti yang mau dikesankan.
Dosa terbesar narasi ini adalah cara mereka memelintir arti data. JETRO itu cuma mendata berapa banyak perusahaan yang “tidak rugi”, bukan mengukur berapa besar margin labanya atau seberapa dahsyat pengembalian modalnya.
Menyamakan status “tidak rugi” dengan “paling untung” itu jelas sesat logika yang parah. Perusahaan bisa saja tetap bertahan untung meski pasarnya lagi stagnan atau marginnya tipis, asalkan mereka bisa tekan biaya habis-habisan.
Jadi, jangan bangga dulu. Bertahan hidup itu beda jauh dengan menjadi pemenang ekonomi.
Ironisnya, kalau kita baca laporan itu sampai habis, isinya malah jadi tamparan buat pemerintah. Faktanya, lebih dari 62% perusahaan di Indonesia mengeluh kalau permintaan pasar domestik lagi anjlok, ditambah lagi beban gaji yang naik dan kompetisi yang makin gila.
