Opini  

Puja-Puji Ekonom Global Atau Narasi Pemasaran? Menguliti Kredibilitas Shan Saeed Dalam Membingkai MBG Dan Ekonomi Indonesia

(ilustrasi/@pixabay)

Namun di sisi lain, ia tetap mempromosikan optimisme tinggi terhadap ekonomi Indonesia tanpa mengaitkan secara konkret bagaimana tekanan eksternal tersebut akan mempengaruhi daya tahan fiskal, terutama ketika pemerintah menjalankan program berskala ratusan triliun rupiah seperti MBG.

Dalam analisis ekonomi yang serius, variabel global bukan sekadar latar belakang—melainkan faktor penentu.

Keempat, absennya rekam jejak prediksi yang teruji menjadi persoalan fundamental. Shan Saeed secara konsisten memberikan outlook positif terhadap Indonesia, tetapi tidak ada dokumentasi publik yang menunjukkan akurasi prediksinya secara historis.

Dalam standar ekonomi profesional, kredibilitas seorang ekonom tidak ditentukan oleh seberapa sering ia tampil di media, tetapi oleh seberapa akurat proyeksinya dibandingkan realisasi.

Tanpa itu, opini ekonomi mudah berubah menjadi retorika yang tidak terukur.

Kelima, penggunaan bahasa yang terlalu normatif dan politis—seperti “berkah besar”, “fondasi kuat”, dan “kredibilitas pemerintah”—menunjukkan bahwa pernyataan tersebut lebih dekat dengan narasi legitimasi kebijakan daripada analisis independen.

Dalam dunia akademik, istilah seperti ini jarang digunakan tanpa disertai indikator kuantitatif yang spesifik.

Ketika seorang ekonom mulai menggunakan bahasa yang selaras dengan narasi politik pemerintah, maka independensi analisisnya patut dipertanyakan.

Dalam konteks ini, puja-puji terhadap MBG dan ekonomi Indonesia bukan sekadar opini personal, melainkan bagian dari ekosistem narasi yang lebih luas: membangun persepsi stabilitas dan optimisme untuk menarik investasi global.

Masalahnya, ketika narasi ini tidak diimbangi dengan kritik dan evaluasi risiko yang seimbang, maka publik berpotensi menerima gambaran ekonomi yang terlalu ideal dan tidak mencerminkan kompleksitas nyata.

Oleh karena itu, penting untuk menempatkan pernyataan Shan Saeed secara proporsional.

Bukan sebagai validasi objektif atas keberhasilan kebijakan, melainkan sebagai perspektif dari aktor pasar dengan kepentingan tertentu.

Dalam kebijakan publik bernilai ratusan triliun rupiah seperti MBG, Indonesia tidak membutuhkan puja-puji global—melainkan analisis yang jujur, transparan, dan dapat diuji secara empiris.

Jika tidak, maka yang terjadi bukanlah penguatan kredibilitas ekonomi nasional, melainkan reproduksi narasi optimisme yang rapuh—yang bisa runtuh ketika berhadapan dengan realitas fiskal, tekanan global, dan akuntabilitas publik yang sesungguhnya.

Penulis : Hamdi Putra – Forum Sipil Bersuara (FORSIBER)

Exit mobile version