FAKTANASIONAL.NET – Pernyataan Chief Economist IQI Global, Shan Saeed, yang menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai “investasi jangka panjang” dan fondasi ekonomi masa depan Indonesia perlu dibaca secara kritis, bukan sekadar diterima sebagai validasi ilmiah atas kebijakan pemerintah.
Dalam pernyataannya, Shan bahkan menegaskan bahwa dampak kebijakan seperti MBG baru akan terasa dalam 12 hingga 15 bulan dan berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia melampaui 6 persen.
Pernyataan ini sekilas terdengar optimis, tetapi justru membuka celah serius dalam hal kredibilitas, metodologi, dan independensi analisis.
Masalah pertama terletak pada posisi institusional Shan Saeed sendiri.
Ia bukan ekonom dari lembaga kebijakan publik seperti IMF, Bank Dunia, atau bank sentral, melainkan Chief Economist dari perusahaan real estate global, Juwai IQI—perusahaan yang bergerak di sektor properti dan investasi lintas negara.
Ini berarti setiap narasi optimisme terhadap stabilitas ekonomi dan prospek pertumbuhan Indonesia memiliki insentif bisnis yang jelas: meningkatkan kepercayaan investor dan mendorong arus modal ke sektor properti.
Dengan kata lain, analisis ekonomi yang disampaikan berpotensi tidak netral, melainkan selaras dengan kepentingan komersial perusahaan.
Pola puja-puji Shan terhadap Indonesia juga bukan fenomena baru, melainkan konsisten dan berulang.
Ia menyebut ekonomi Indonesia “stabil secara struktural”, “kredibel”, bahkan sebagai “jangkar kestabilan makroekonomi di ASEAN”.
Ia juga menilai Indonesia sebagai “primadona investasi global” dan menyebut minat investor asing tetap tinggi karena stabilitas kebijakan dan kredibilitas pemerintah.
Narasi ini membentuk pola yang jelas: hampir tidak pernah ada kritik substantif terhadap risiko fiskal, beban anggaran, atau potensi distorsi kebijakan. Dalam dunia ekonomi, pola seperti ini bukan analisis—melainkan framing.
Kedua, klaim bahwa MBG adalah investasi jangka panjang yang akan memperkuat ekonomi tidak disertai dengan model kuantitatif yang transparan.
Tidak ada proyeksi multiplier effect yang jelas, tidak ada simulasi dampak fiskal terhadap defisit, dan tidak ada analisis opportunity cost terhadap anggaran yang sangat besar.
Sebaliknya, pernyataan tersebut hanya bersandar pada argumen normatif bahwa pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan akan meningkatkan produktivitas.
Secara teori, argumen ini benar, tetapi dalam praktik kebijakan publik, ukuran keberhasilan tidak bisa hanya bergantung pada asumsi umum tanpa parameter empiris yang terukur.
Ketiga, terdapat kontradiksi internal dalam narasi yang dibangun. Di satu sisi, Shan mengakui bahwa dunia berada dalam tekanan global akibat konflik geopolitik dan kenaikan harga energi.
