FAKTANASIONAL.NET – Terhentinya akses terhadap website Dashboard MBG Kabupaten Bogor pasca terungkapnya keterkaitan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sony Sonjaya dengan jaringan dapur MBG melalui Yayasan Ageung Ridzki Saudara dinilai bukan sekadar gangguan teknis biasa.
Penilaian tersebut disampaikan Hamdi Putra dari Forum Sipil Bersuara (Forsiber) dalam releasenya didapat redaksi, Kamis (30/4/2026).
Menurut Hamdi, hal tersebut adalah sinyal serius yang mengarah pada potensi krisis transparansi dalam pengelolaan program strategis nasional bernilai ratusan triliun rupiah.
Lebih lanjut Hamdi mengungkapkan bahwa fakta yang tidak terbantahkan menunjukkan bahwa yayasan tersebut mengelola setidaknya tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Bogor. Mulai dari Megamendung Pasir Angin 3, Megamendung Cipayung 2, hingga Citapen Ciawi 02. Tiga SPPG itu merupakan bagian dari total setidaknya tujuh SPPG yang terafiliasi secara keluarga dengan Sony Sonjaya.
“Dalam konteks tata kelola publik, keterhubungan ini langsung menempatkan program MBG dalam bayang-bayang konflik kepentingan yang serius karena Sony Sonjaya juga Ketua Tim Verifikasi SPPG nasional,” ungkapnya.
Yang menjadi persoalan utama bukan hanya soal afiliasi yang sudah pernah diungkap dan dibahas, melainkan momentum hilangnya akses terhadap dashboard yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu model transparansi terbaik di tingkat daerah.
Dashboard MBG Kabupaten Bogor, terang Hamdi, selama ini menyajikan data operasional secara rinci. Bahkan, dari sisi keterbukaan data, platform ini dinilai melampaui sistem yang dimiliki oleh BGN pusat.
“Ketika sebuah sistem transparansi yang superior justru menjadi tidak dapat diakses tepat setelah munculnya temuan sensitif terkait aktor-aktor di dalamnya, publik berhak mempertanyakan apakah ini kebetulan teknis, atau bentuk pembatasan informasi yang disengaja?” ujarnya.
Dalam prinsip pemerintahan yang baik (good governance), transparansi bukanlah fitur tambahan, tapi fondasi utama. Ketika akses informasi publik dibatasi atau hilang dalam situasi krusial, maka yang terjadi bukan hanya kekosongan data, tetapi juga erosi kepercayaan publik.
“Terlebih dalam program seperti MBG, yang menyentuh puluhan juta penerima manfaat dan menyerap anggaran hingga Rp335 triliun pada 2026, setiap celah dalam akuntabilitas berpotensi berdampak sistemik,” kata Hamdi.
Lebih jauh dia mengungkapkan, hilangnya dashboard ini justru memperkuat persepsi bahwa mekanisme pengawasan internal belum cukup kuat untuk menghadapi potensi konflik kepentingan yang melibatkan relasi kekuasaan dan distribusi proyek.
“Ketika aktor yang memiliki pengaruh dalam proses verifikasi juga memiliki keterkaitan dengan entitas pelaksana, maka netralitas sistem menjadi dipertanyakan,” ujar Hamdi.
Dalam konteks ini, pemulihan akses dashboard bukan sekadar soal teknis IT, tetapi merupakan ujian komitmen pemerintah terhadap keterbukaan. Publik membutuhkan jawaban yang jelas tentang siapa yang bertanggung jawab atas penghentian akses tersebut, apa alasannya, dan kapan transparansi akan dipulihkan sepenuhnya.
“Jika tidak, maka kasus ini akan menjadi preseden buruk bahwa dalam program sebesar MBG, transparansi bisa hilang justru ketika paling dibutuhkan,” ungkap Hamdi.
Sebelumnya, temuan mengenai keterlibatan keluarga inti pejabat tinggi dalam operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka pertanyaan serius tentang integritas tata kelola program bernilai ratusan triliun rupiah.
Dalam konteks ini, dugaan keterhubungan antara Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Sony Sonjaya, dengan sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jawa Barat tidak dapat dipandang sebagai kebetulan administratif semata, melainkan indikasi kuat terbentuknya jejaring kepentingan berbasis keluarga.
Data menunjukkan bahwa sedikitnya tujuh SPPG yang tersebar di Kabupaten Bogor, Purwakarta, Kota Bandung, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Bandung dikelola oleh satu entitas yang sama, yaitu Yayasan Ageung Ridzki Saudara.
* Bogor Megamendung Pasir Angin 3 (Kabupaten Bogor)
* Babakan Sari Plered (Purwakarta)
* Coblong Lebak Gede 3 Kubang Utara (Kota Bandung)
* Bogor Megamendung Cipayung 2 (Kabupaten Bogor)
* Babakan Loa (Kabupaten Garut)
* Citapen Ciawi 02 (Kabupaten Bogor)
