Ironi Pamer Uang Sitaan Rp10,2 Triliun di Tengah Jeritan Upah Buruh Rp3 Juta
FAKTANASIONAL.NET – Fenomena pamer tumpukan uang hasil sitaan senilai Rp10,2 triliun oleh Kejaksaan Agung baru-baru ini menuai kritik tajam. Meski langkah tersebut mendapat apresiasi terbuka dari Presiden Prabowo Subianto sebagai prestasi penegakan…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET – Fenomena pamer tumpukan uang hasil sitaan senilai Rp10,2 triliun oleh Kejaksaan Agung baru-baru ini menuai kritik tajam.
Meski langkah tersebut mendapat apresiasi terbuka dari Presiden Prabowo Subianto sebagai prestasi penegakan hukum, tindakan ini dinilai justru memperlihatkan "keterputusan empati penguasa terhadap realitas ekonomi rakyat yang sedang terhimpit.
Hamdi Putra dari Forum Sipil Bersuara (FORSIBER) dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (13/5), menyoroti bahwa parade visual uang dalam jumlah fantastis tersebut berisiko memicu kemarahan sosial.
"Negara seolah lebih sibuk mempertontonkan estetika uang daripada dampak konkret kesejahteraan bagi masyarakat," ungkapnya sebagaimana dikutip dari rilis resmi Redaksi.
Kontras Tajam Data BPS dan 'Teater' Kekuasaan
Kritik ini diperkuat oleh data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026 yang menunjukkan rata-rata upah buruh nasional hanya menyentuh angka Rp3,29 juta per bulan.
Kondisi makin memprihatinkan bagi pekerja lulusan SD ke bawah yang rata-rata hanya mengantongi Rp2,23 juta, serta kelompok usia 15–19 tahun dengan pendapatan sekitar Rp1,99 juta.
Visualisasi triliunan rupiah di ruang publik dianggap sangat kontras dengan kehidupan 59,42 persen pekerja sektor informal yang hingga kini belum memiliki kepastian penghasilan.
Saat jutaan rakyat harus menghitung pengeluaran harian dengan ekstra ketat untuk kebutuhan pokok, parade uang tersebut justru terasa seperti pertunjukan kemewahan yang jauh dari realitas hidup masyarakat bawah.
Bagi FORSIBER, keberhasilan pemberantasan korupsi seharusnya diukur dari transformasi kualitas hidup masyarakat, bukan sekadar spektakel visual di depan kamera.
Tingginya angka pengangguran usia muda yang mencapai 16,36 persen menjadi bukti nyata bahwa fondasi ekonomi nasional masih memerlukan penanganan serius daripada sekadar pencitraan institusional.
Tanpa kehadiran negara yang nyata dalam menstabilkan harga kebutuhan pokok dan menyediakan lapangan kerja, tumpukan uang sitaan tersebut hanya akan menjadi simbol kesenjangan emosional antara elite politik dan rakyat kecil yang berjuang bertahan hidup.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.