Menolak Maklum! Alasan Mengapa Logika ‘Tergantung Sudut Pandang’ Bisa Merusak Tatanan Moral

Kata-kata Medsos viral

3. Kontradiksi Soal “Niat dan Karma”

Kutipan Video: “Dua orang berdana 50 ribu… satu bisa jadi karma baik, yang satu malah karma buruk.”

Poin ini sebenarnya justru membantah kesimpulan akhir dari gambar itu sendiri. Ketika teks tersebut mengakui bahwa “niat yang salah menghasilkan karma buruk,” hal itu membuktikan bahwa ada standar objektif yang berlaku universal: bahwa ketulusan itu baik, dan manipulasi (pencitraan) itu buruk.

Jika semua hal di dunia ini mutlak tergantung sudut pandang, maka orang yang berniat buruk pun bisa saja mengklaim, “Menurut sudut pandang saya, niat saya ini baik.”

Hukum karma tidak akan bekerja jika tidak ada kompas moral yang absolut.

4. Jebakan Logika: Pernyataan yang Membatalkan Dirinya Sendiri

Kutipan Video: “Tidak ada yang baik secara mutlak juga tidak ada yang buruk secara mutlak.”

Kalimat ini secara filosofis adalah pernyataan yang membatalkan dirinya sendiri. Ketika berkata “Tidak ada yang mutlak di dunia ini,” lalu “Apakah pernyataan di video ini mutlak benar?” Jika ya, berarti ada hal yang mutlak di dunia ini (yaitu pernyataan tersebut).

Jika tidak, berarti pernyataan tersebut bisa saja salah, dan kebaikan/keburukan mutlak itu sebenarnya ada.

Mengapa Bahaya Jika Kita Mempercayai Video Ini?

Jika kita sepakat bahwa “benar dan salah hanya masalah sudut pandang”, maka tatanan dunia akan hancur.

Kita tidak bisa menyalahkan koruptor, karena dari sudut pandang mereka, mereka hanya menyejahterakan keluarga.

Kita tidak bisa menghukum penjajah, karena dari sudut pandang mereka, mereka sedang memperluas wilayah kejayaan.

Kita tidak bisa membela korban kejahatan, karena pelaku bisa berkilah bahwa tindakan mereka “benar” menurut perspektif pribadi.

Sudut pandang memang berguna untuk melatih empati dan memahami motif orang lain, tetapi bukan untuk mengaburkan batas antara benar dan salah.

Hal-hal seperti keadilan, kemanusiaan, kejujuran, dan hak asasi adalah kebenaran objektif (mutlak) yang harus dijaga.

Jangan biarkan estetika kata-kata puitis melunakkan akal sehat kita untuk melihat mana yang benar-benar hitam dan mana yang benar-benar putih.[dit]