Ini menunjukkan inkonsistensi framing fiskal.
Secara substansi, operasional inti MBG tetap berjalan pada basis Rp268 triliun. Dapur tetap beroperasi. SPPG tetap menerima aliran dana. Target penerima manfaat tetap dipertahankan. Tidak ada pengurangan drastis terhadap fondasi utama program sebagaimana kesan yang dibangun oleh istilah “pemangkasan”.
Karena itu, gimmick tersebut bukanlah penghematan nyata, melainkan hanya permainan narasi untuk menenangkan pasar dan membangun citra kehati-hatian fiskal.
Yang lebih berbahaya adalah efek psikologisnya terhadap kualitas transparansi APBN.
Jika dana cadangan bisa dipresentasikan ke publik sebagai anggaran penuh ketika pemerintah ingin terlihat ekspansif, lalu dipresentasikan sebagai “pemangkasan besar” ketika pemerintah ingin terlihat hemat, maka angka APBN berubah menjadi instrumen pencitraan politik, bukan lagi alat transparansi fiskal yang objektif.
Pemerintah tampak ingin terlihat tetap kuat menjalankan program populis, tetapi sekaligus ingin terlihat hemat di hadapan pasar.
Akibatnya lahirlah komunikasi fiskal ambigu. Tidak benar-benar memangkas, tetapi ingin mendapat efek politik dari kata “pemangkasan”.
Di tengah tekanan rupiah, meningkatnya beban utang, dan sensitivitas pasar terhadap disiplin fiskal pemerintah, narasi “pemangkasan Rp67 triliun” justru bisa memperburuk keadaan dan merusak kepercayaan pasar.
Jakarta, 20 Mei 2026
Oleh: HAMDI PUTRA (Forum Sipil Bersuara/FORSIBER)











