Akselerasi Net Zero Emission 2060, Pertamina Pacu Transisi Energi Sektor Darat, Laut, dan Udara
FAKTANASIONAL.NET – PT Pertamina (Persero) terus mempercepat pengembangan ekosistem energi dan mobilitas berkelanjutan sebagai wujud komitmen nyata mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia tahun 2060. Langkah taktis ini diimplementasikan m…
FAKTANASIONAL.NET – PT Pertamina (Persero) terus mempercepat pengembangan ekosistem energi dan mobilitas berkelanjutan sebagai wujud komitmen nyata mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia tahun 2060.
Langkah taktis ini diimplementasikan melalui rangkaian inisiatif transisi energi yang terintegrasi di seluruh lini transportasi nasional, baik darat, laut, maupun udara.
Komitmen strategis tersebut ditegaskan oleh Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono, dalam acara Studium Generale Sustainability bertajuk “Global Insights for Local Action: Bridging Academia and Industry in Energy Transition” yang digelar oleh Universitas Pertamina di Jakarta.
Forum tersebut menjadi wadah sinergi yang mempertemukan akademisi global, pelaku industri, serta pemangku kepentingan lintas sektor untuk merumuskan solusi nyata pembangunan rendah karbon.
“Seluruh upaya ini kami arahkan untuk mendukung pencapaian target Net Zero Emission Indonesia pada tahun 2060, sebagaimana menjadi komitmen kuat Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto,” ujar Agung dalam keterangannya, Jumat (22/5/2026).
Peta Jalan Transisi Energi Tiga Matra Transportasi
Dalam paparannya, Agung menguraikan strategi kesiapan teknologi dan penguatan ekosistem yang tengah dijalankan Pertamina pada tiga sektor transportasi utama:
1. Transportasi Darat: Ekosistem EV dan Pabrik Bioetanol Glenmore
Di sektor darat, Pertamina memperkuat ekosistem kendaraan listrik (Electric Vehicle) melalui penyediaan infrastruktur charging station dan battery swapping berkolaborasi dengan Indonesia Battery Corporation (IBC).
Tak hanya itu, Pertamina juga tengah membangun pabrik bioetanol terintegrasi di Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur.
Proyek masif ini menyatu langsung dengan kawasan perkebunan tebu lokal guna menjamin pasokan bahan baku secara berkelanjutan sekaligus memperkokoh ketahanan energi domestik.
2. Transportasi Laut: Green Ammonia dan Dek Kapal Tenaga Surya
Untuk moda transportasi laut, Pertamina mendorong efisiensi energi armada kapalnya melalui pemanfaatan teknologi dual fuel serta pengembangan green ammonia. Inovasi hijau juga dilakukan dengan memasang panel surya (solar panel) di dek kapal untuk memasok kebutuhan kelistrikan armada secara mandiri.
3. Transportasi Udara: Sustainable Aviation Fuel (SAF)
Di industri aviasi, Pertamina melalui maskapai Pelita Air mempelopori penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Bahan bakar ramah lingkungan ini diproduksi dengan memanfaatkan minyak jelantah (used cooking oil), yang terbukti menjadi solusi konkret dalam mereduksi emisi karbon penerbangan global.
Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Utama
Menanggapi langkah masif industri, Acting Rector Universitas Pertamina, Djoko Triyono, menekankan bahwa keberhasilan transisi energi di tingkat lokal sangat bergantung pada eratnya kerja sama antara dunia akademik dan praktisi lapangan.
“Transisi energi tidak dapat dijalankan sendiri oleh industri maupun pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi erat antara akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat untuk menghadirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan lokal. Universitas Pertamina berkomitmen menjadi jembatan yang menghubungkan riset, inovasi, pengembangan SDM, dan aksi nyata guna mendukung terciptanya ekosistem energi berkelanjutan di Indonesia,” papar Djoko.
Pandangan senada juga disampaikan oleh Guru Besar dari University of Southern California (USC) Sol Price, Prof. Marlon Boarnet. Menghadiri forum sebagai pembicara utama, Prof. Marlon menyebut dunia saat ini sedang berada di fase awal transformasi mobilitas hijau, di mana komoditas seperti biofuel dan drop-in fuels memegang peran sangat krusial sebagai jembatan transisi.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa untuk sektor yang sulit didekarbonisasi (hard-to-abate) seperti pelayaran laut, diperlukan solusi energi dengan densitas tinggi seperti green ammonia.
Prof. Marlon mengingatkan bahwa transisi energi kini telah bergeser dari sekadar masalah kepatuhan regulasi menjadi sebuah transformasi industri global yang wajib dihadapi lewat kolaborasi erat.
Merespons dinamika tersebut, Pertamina berkomitmen untuk terus mempertajam scenario planning dan transformasi bisnisnya.
Agung menutup dengan menegaskan bahwa seluruh proses ini akan dijalankan secara terencana, bertahap, dan berkelanjutan demi menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendukung capaian Sustainable Development Goals (SDGs) bagi generasi masa depan.
Baca Juga: Heboh Harga Asli Pertalite Rp16 Ribu, Pertamina Ungkap Fakta di Balik Subsidi BBM
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.