Jajaki Koalisi Multinasional Bersama Sekutu Barat
Menhan Yesilgoz-Zegerius membeberkan bahwa pemerintah Belanda saat ini sedang aktif menjajaki berbagai opsi taktis untuk penempatan armada penyapu ranjau di Selat Hormuz. Langkah ini dilakukan melalui koordinasi intensif bersama jajaran negara sekutu.
Sinyal pergerakan militer ini menguat setelah para pemimpin militer dari sekitar 40 negara menggelar pertemuan darurat yang diinisiasi oleh Inggris dan Prancis pada pekan lalu.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis pascapertemuan, koalisi militer internasional menegaskan bahwa misi pengamanan untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dirancang guna melengkapi proses diplomatik yang sedang berjalan demi menyudahi konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Tiga Bulan Konflik AS-Iran Picu Blokade Energi Global
Eskalasi di kawasan Teluk bermula saat kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi serangan udara gabungan ke sejumlah target strategis di dalam wilayah Iran sejak tiga bulan lalu.
Serangan masif yang dimulai pada 28 Februari tersebut ikut menyasar ibu kota Teheran, memicu kerusakan infrastruktur yang parah hingga menjatuhkan korban dari kalangan sipil.
Pemerintah Iran langsung merespons tindakan tersebut dengan melancarkan serangan balasan ke wilayah kedaulatan Israel serta sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat yang tersebar di kawasan Timur Tengah.
Meskipun Washington dan Teheran sempat menyepakati gencatan senjata sementara pada 7 April lalu, jalannya negosiasi lanjutan yang dimediasi di Islamabad, Pakistan, berakhir buntu tanpa menghasilkan terobosan perdamaian yang konkret.
Buntut dari mandeknya jalur diplomasi dan tingginya intensitas konflik ini memicu terjadinya blokade de facto di Selat Hormuz. Jalur perairan sempit ini merupakan urat nadi utama bagi lalu lintas kapal tanker yang membawa komoditas minyak mentah serta gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk Persia menuju pasar global.
Terganggunya jalur logistik internasional tersebut secara otomatis memukul volume ekspor dan produksi minyak bumi dunia, yang pada akhirnya mendongkrak lonjakan harga bahan bakar serta biaya produk industri di berbagai negara.
Baca Juga: Wakil Koordinator KontraS Diserang Air Keras Usai Podcast, Alami Luka Bakar 24 Persen
