Daerah  

Heboh Siswi Berprestasi Dicoret dari Paskibraka Sulsel, Transparansi BPIP dan Unsur Politis Disorot

Proses seleksi Paskibraka tingkat Provinsi Sulawesi Selatan diterpa isu miring seputar transparansi dan dugaan intervensi non-teknis setelah nama siswi berprestasi, Cathlyn Yvaine Lesmana, mendadak lenyap dari daftar kelolosan./Dok. BPIP

FAKTANASIONAL.NET — Kasus dicoretnya siswi SMA asal Makassar, Cathlyn Yvaine Lesmana, dari daftar seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) terus menggelinding panas dan memantik sorotan tajam dari publik.

Cathlyn yang sebelumnya santer dikabarkan menduduki peringkat ketiga dalam seleksi provinsi, secara mengejutkan hilang dari daftar final dan posisinya digantikan oleh peserta lain.

Kejadian ini memicu gelombang kritik di media sosial mengenai keabsahan dan transparansi sistem penilaian yang diterapkan panitia seleksi.

Pengamat politik dan hukum, Muslim Arbi, menilai sengkarut ini tidak terlepas dari peran Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) selaku lembaga pusat yang memegang kendali atas pembinaan dan proses seleksi Paskibraka nasional saat ini.

Baca juga: Sebut Tak Transparan, DPPI Makassar Bongkar Kejanggalan Seleksi Paskibraka Nasional Asal Sulsel

“Kasus Cathlyn ini memunculkan tanda tanya besar di publik. Bagaimana mungkin peserta yang sudah lolos dan berada di peringkat atas tiba-tiba dicoret lalu diganti peserta lain. Ini menimbulkan dugaan adanya proses yang tidak transparan,” kata Muslim Arbi saat memberikan keterangan di Jakarta, Kamis (28/5/2026).

Muslim mengingatkan BPIP untuk menjaga muruah, profesionalitas, serta objektivitas kelembagaan dalam menyaring pemuda-pemudi terbaik bangsa, dan mewanti-wanti agar proses ini steril dari cawe-cawe kepentingan luar.

“BPIP jangan sampai dipersepsikan publik sebagai lembaga yang sarat kepentingan politik. Seleksi Paskibraka harus objektif, profesional, dan bersih dari intervensi,” tegasnya.

Lebih jauh, Muslim menyoroti posisi strategis Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, yang menjabat sebagai Dewan Pengarah BPIP.

Menurutnya, kegagalan panitia dalam menyajikan akuntabilitas publik secara otomatis akan menyeret persepsi liar di tengah masyarakat terkait adanya intervensi kekuatan politik elektoral tertentu.

“Karena BPIP dikaitkan dengan Megawati sebagai Dewan Pengarah, maka publik akhirnya bertanya-tanya apakah ada pengaruh politik dalam proses seleksi ini. Dugaan seperti itu muncul karena mekanismenya tidak transparan. Kalau memang objektif, buka saja seluruh hasil penilaian peserta. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Publik ingin tahu dasar kenapa Cathlyn dicoret,” imbuhnya.

Ia menambahkan, profil Cathlyn yang menguasai bahasa Inggris dan Mandarin aktif semestinya dipandang sebagai aset berharga bagi delegasi Paskibraka di level nasional, bukan malah didepak karena alasan non-teknis yang kabur.