“WHO merekomendasikan agar Ervebo tidak digunakan di luar lingkungan penelitian yang dirancang dengan cermat, untuk memungkinkan penilaian kinerjanya terhadap BDV,” demikian tegas laporan WHO.
Sebagai langkah konkret ke depan, WHO bersama dengan jajaran Pemerintah Republik Demokratik Kongo, Pemerintah Uganda, Africa CDC, ANRS Emerging Infectious Diseases Prancis, beserta konsorsium mitra ilmiah internasional kini tengah merampungkan penyusunan protokol riset bersama.
Regulasi ini akan menjadi panduan baku dalam menguji tingkat keamanan serta efikasi dari seluruh lini terapi medis yang telah diprioritaskan.
Baca Juga: Wabah Mematikan Hantavirus Bertambah Jadi 9 Kasus











