Pasukan lokal segera melontarkan meriam pencegat demi menghalau agresi tersebut, menyusul eskalasi pasca-serangan militer Amerika Serikat ke teritorial Iran. Namun nahas, kerusakan infrastruktur manajemen lalu lintas udara tetap tidak dapat dihindarkan.
Kementerian Luar Negeri Kuwait mengutuk keras manuver brutal Teheran yang dinilai telah menginjak-injak kedaulatan negara dan mengancam keselamatan penerbangan global. Insiden ini membuktikan rapuhnya kesepakatan gencatan senjata AS-Iran yang baru ditandatangani pada awal April lalu.
Pemerintah Iran berkilah bahwa gempuran tersebut adalah aksi balasan yang sah. Mereka menuding Kuwait dan Bahrain telah bersekongkol memberikan akses pangkalan militer bagi Amerika Serikat untuk menyerang aset-aset Iran.
“Pasukan kami telah membombardir Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait,” klaim militer Iran, tanpa menyinggung kehancuran fasilitas sipil.
Tuduhan tak berdasar ini sontak memicu kemurkaan otoritas Kuwait. Sebagai langkah diplomatik yang tegas, Kuwait resmi mengusir dua staf kedutaan besar Iran dan memaksa mereka segera melangkah keluar dari wilayah kedaulatan Kuwait tanpa syarat apapun.[dit]











